Oleh: Ksatriawan Zaenuddin, S.IP., M.SI Pilpres 2024 bukanlah sekadar ritual politik biasa, melainkan panggung dramatis di mana pertarungan sengit antara idealisme demokrasi dan realitas politik saat ini dipertontonkan. Di tengah meningkatnya pesimisme terhadap masa depan demokrasi, terutama setelah tersangkanya Ketua KPK, Pilpres ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan semangat berdemokrasi. Ironisnya, daripada menjadi peluang untuk memperkuat demokrasi, Pilpres 2024 justru terlihat seperti upaya untuk menghancurkan fondasi demokrasi itu sendiri. Berbagai manuver politik dan intervensi terjadi secara sporadis, terus-menerus berkembang tanpa kendali, bahkan dipertontonkan secara terang-terangan kepada masyarakat luas. Gejala Kematian Demokrasi Gejala semakin terlihat ketika, ketika konstitusi negara direvisi secepat kilat jelang pendaftaran capres dan cawapres Pilpres 2024. Perubahan terkesan terburu-buru dan semata-mata mengakomodir ambisi politik. Ind...
Ilustrasi Saintek Is God In The Universe (Sains dan Teknologi Adalah Tuhan di Alam Semesta) Hasrat soal 80 juta tak mampu menggapai klimaks penerungan jiwa. Barulah diskusi pada Rabu (9/1/2019) di Caffe Cini-Cini mampu membangkitkan libido ini berceceran hingga ke semesta. "Woww, Kok Bisa?" Pasalnya, selepas mencicipi tetes terakhir Kopi Teras Kinoi. Saya harus mendengarkan bayolan semenarik yang digelar Komunitas Mata Literasi bertema 'Literasi dan Masa Depan Generasi' dengan membandrol seorang 'berambut putih penuh, kurus kerempeng'. "Anda Menduga bahwa Ia Orang Barat!..., saya jawab: dugaanmu terlalu rendah". 'Rupa' tak meyakinkan, ia paparkan ke polosok 'kegilaan' berpikir manusia. Ketika kedipan mata setiap orang lebih tertuju kepada botak. Saya balas, saya lebih kepada rambutnya bak salju yang mengalami erosi di gunung Himalaya, bak film serial naruto dengan aktor kakasih hateke. Rambutn...