Kota kecil dipinggir sungai Mississippi Amerika Serikat di Hannibal, lahir penulis muda nan cerdas bernama Samuel Langhorne Clemens atau Mark Twain. Karya karya monumentalnya melejitkan namanya dalam tiap perjalan, hingga dijuluki sebagai "The Great American Novel,".
Berstatus ada apanya alias hidup mapan dengan rejeki ayahnya sebagai hakim atau glamor diumur belia, ternyata sangat singkat bagi Mark Twain untuk berpoyah-poyah. Ia melihat pembunuhan, rasisme dan kematian ayahnya.
Sungai yang biasa ia pandangi, berubah menjadi lumpur. Sekujur tubuhnya lapar dan haus. Mark Twain putus sekolah layaknya kisah anak Indonesia. Ia, bekerja tukang cetak diusia 12 tahun dan dibayar hanya dengan menyuapi cacing-cacing perut yang sedang marah.
Nasib sial Mark Twain makin menjadi-jadi. Ingin menikmati hidup layaknya anak remaja, malah yang ia dapat banting tulang untuk sesuap nasi dikala remaja, lagi dan lagi. Di usia 17 tahun, ia memutuskan pindah dan bekerja pemandu sungai, disinilah ia mendapatkan nama yang begitu koyol hingga Google memperingatinya setiap 30 November yakni Mark Twain (Yang Aman untuk Memandu Sungai).
Mata yang telah terbuka sejak belia, melihat kematian, pembunuhan, jatuh miskin dan terseok-seok hingga putus asa adalah sesuatu yang saya dapat katakan adalah anugerah bagi Mark Twain. Melalui perjalanan ini, ia mampu melejitkan namanya sebagai penulis terbaik seantero barat dan Amerika Serikat hingga mencapai klimaks saat menyebrangi laut mediterania.
Selain itu, "Kepahitan mendalam bagi seorang lelaki, mana kala ia tidak mampu merasakan cinta diusia remaja". Kiranya kataku, tepat untuk Mark Twain yang malang. Walau demikian, inilah anugerah maksudnya "anu gratis" alias rejeki nomplok berbondong-bondong menghampiri Mark Twain diusia dewasa.
Ia menemukan cinta sejati. Cinta yang tak berakhir dengan kata putus. Cinta yang tak berakhir dengan "lagi sayang-sayangnya, dijauhin,". Melainkan cinta melahirkan 4 anak Mark Twain bersama istrinya Olivia Langdon. Menikah tanpa takut untuk jatuh miskin, maksunya selain istrinya cantik, juga anak dari saudagar kaya. Kok bisa yah mau sama si Mark?...
Namun kekayaannya ayah Oliv, tidak lebih besar dari ketenaran Mark Twain. Usai pernikahan, mimpi apa Mark Twain semalam atau lagi buat apa dengan oliv hingga menghasilkan beberapa karya magnum opus dalam kesastraan.
Ia pun meninggal diikuti seluruh darah dagingnya. Jejak keturunannya terhapus di dunia ini, namun tidak dengan kisah dan karyanya, karya dari seorang penulis dan jenekawan di Amerika Serikat.
Salah satu kalimat yang saya sukai dalam karya Mark Twain dapat dilihat di bawah ini..
Berstatus ada apanya alias hidup mapan dengan rejeki ayahnya sebagai hakim atau glamor diumur belia, ternyata sangat singkat bagi Mark Twain untuk berpoyah-poyah. Ia melihat pembunuhan, rasisme dan kematian ayahnya.
Sungai yang biasa ia pandangi, berubah menjadi lumpur. Sekujur tubuhnya lapar dan haus. Mark Twain putus sekolah layaknya kisah anak Indonesia. Ia, bekerja tukang cetak diusia 12 tahun dan dibayar hanya dengan menyuapi cacing-cacing perut yang sedang marah.
Nasib sial Mark Twain makin menjadi-jadi. Ingin menikmati hidup layaknya anak remaja, malah yang ia dapat banting tulang untuk sesuap nasi dikala remaja, lagi dan lagi. Di usia 17 tahun, ia memutuskan pindah dan bekerja pemandu sungai, disinilah ia mendapatkan nama yang begitu koyol hingga Google memperingatinya setiap 30 November yakni Mark Twain (Yang Aman untuk Memandu Sungai).
Mata yang telah terbuka sejak belia, melihat kematian, pembunuhan, jatuh miskin dan terseok-seok hingga putus asa adalah sesuatu yang saya dapat katakan adalah anugerah bagi Mark Twain. Melalui perjalanan ini, ia mampu melejitkan namanya sebagai penulis terbaik seantero barat dan Amerika Serikat hingga mencapai klimaks saat menyebrangi laut mediterania.
Selain itu, "Kepahitan mendalam bagi seorang lelaki, mana kala ia tidak mampu merasakan cinta diusia remaja". Kiranya kataku, tepat untuk Mark Twain yang malang. Walau demikian, inilah anugerah maksudnya "anu gratis" alias rejeki nomplok berbondong-bondong menghampiri Mark Twain diusia dewasa.
Ia menemukan cinta sejati. Cinta yang tak berakhir dengan kata putus. Cinta yang tak berakhir dengan "lagi sayang-sayangnya, dijauhin,". Melainkan cinta melahirkan 4 anak Mark Twain bersama istrinya Olivia Langdon. Menikah tanpa takut untuk jatuh miskin, maksunya selain istrinya cantik, juga anak dari saudagar kaya. Kok bisa yah mau sama si Mark?...
Namun kekayaannya ayah Oliv, tidak lebih besar dari ketenaran Mark Twain. Usai pernikahan, mimpi apa Mark Twain semalam atau lagi buat apa dengan oliv hingga menghasilkan beberapa karya magnum opus dalam kesastraan.
Ia pun meninggal diikuti seluruh darah dagingnya. Jejak keturunannya terhapus di dunia ini, namun tidak dengan kisah dan karyanya, karya dari seorang penulis dan jenekawan di Amerika Serikat.
Salah satu kalimat yang saya sukai dalam karya Mark Twain dapat dilihat di bawah ini..

Komentar
Posting Komentar