Langsung ke konten utama

Refleksi Untuk Proyeksi HUT RI Ke 73, Menyelami Jati Diri Yang Tercungkil




Apa yang sekarang kita kerjakan, apa yang sekarang kita perbuat, apa saja kita punya tindakan ini hari hanya berupa menyusun perhimpunan, menulis artikel dalam majalah surat kabar, mengadak kursus, mengadakan rapat umum, mengadakan demonstrasi, itu semua adalah termasuk massa-aksi” tutur Ir. Soekarno dalam Biografi, Pemikiran dan Perjuangan A. Dahlan Ranuwirahardjo.


Oleh: Ksatriawan Zaenuddin 

Pada kali ini, semarak memperingati HUT RI Ke 73 terus menggelegar di seluruh daerah di Indonesia. Syiar-syiar nasionalisme dan patriotism terus dipanjatkan seluruh kalangan. Salah satu bentuk pengabdian adalah memasang umbul-umbul merah putih. Membuat pentas seni dan juga sejumlah acara, membuat acara silaturahim dan lain-lain. Wajar saja, jika kita bertindak demikian. Ada sejarah yang mendekam. Sejarah perjuangan leluhur dan pahlawan yang rela berkorban pikiran, keringat, darah dan bahkan nyawa.

Ia rela menjadi tumbal kemerdekaan, ia rela menjadi martir kemerdekaan, ia rela tak menikmati kemerdekaan, dan ia rela tidak bersama istri, anak dan cucunya menceritakan cerita perjuangannya saat dulu. Ia rela meninggalkan meja makan dan secangkir kopi yang dituangkan oleh kekasihnya. . Sepak terjang mereka juga telah tertulis. Semangatnya telah terkenang hingga sepanjang masa. Jutaan warga Indonesia juga telah mendoakan ‘mereka’. Mungkin saja ‘mereka’ telah ada didalam surga.  

Melalui tulisan ini, saya tidak ingin mengkultuskan (mendewakan) para leluhur dan pahlawan. Lantaran mereka bergerak, berkorban dan mati dalam kesadaran mereka’ mewafkan diri kepada Indonesia. Namun ada hal yang terasa hambar pada HUT RI Ke 73. Ada yang terasa hilang pada diri saya pribadi. Ada yang terasa hilang, pada apa yang saya rasakan dalam ‘tempat menjinakkan kaki’, tempat ‘penggemblengan diri, pikiran, jiwa dan raga ini. Saya merasa kehilangan ‘Jati Diri’. Jati diri akan kerelaan dan jati diri akan pengorbanan dan jati diri untuk mewakafkan pada ibu pertiwi.

Refleksi Jati Diri Yang Tercungkil
Pada kali ini, melalui tulisan ini. Saya tuliskan ke-ber-ada-an diri yang kini mulai surut, tergiring dan terhasut. Pada kali ini, kedirian yang tak lepas pada lingkungan (Terma Filsafat Jean Paul Satre). Saya, anda, kita dan segala hal yang berada dalam pijakan dan naungan, melalui tulisan ini. ‘Kita telah kehilangan Jati Diri’. JIka mungkin tulisan ini berupa wacana, opini, sarat akan subjektifitas ataupun berupa justifikasi. Maka lawanlah saya dengan tulisan.  

Ketika pada awal mula saya lahir, awal mula saya mengenal dunia, dunia yang indah dan sarat akan perjuangan, dunia yang penuh dengan demonstrasi, dunia yang penuh dengan soliditas, dunia yang penuh dengan teriakan. Kesenangan itu tiada tandingannya.
Pergi demo, ada disana aksi. Masuk saja, coba kita lihat siapa yang paling lama orasi dan struktur katanya yang baik dan bisa kasih berkumpul teman-teman, kasih chaos” tutur temanku yang ingin terus bersama-sama untuk membentuk jati diri.
Pada saat itu, diri kita hanya memikirkan untuk belajar memegang toa, diri kita hanya belajar untuk membaca buku, diri kita hanya ingin belajar untuk ‘bersama’. Pada tahun 2015 lalu, satu minggu setelah mengikuti perkuliahan, saya mengikuti Bastra Akbar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan dua minggu berselang, gelegar semangat itu mengelora di Jalan Sultan Alauddin. Saat itu jugalah, teriakan kami muntahkan diatas truk. Diatas itu jugalah, kami bermandikan lantunan tulisan pergerakan kami kibarkan. Dan ikrarkan. Saat itu jugalah, kita membentuk perisai secara horizontal dan vertikal untuk disetiap masa dan zaman.

Berapa buku yang sudah nu baca Wan, diskusikan dulu, presentasi dulu sama teman-teman dan adik-adik disini,” ungkap teman yang selalu menebarkan persaingan untuk mengakar bersama.

Watu demi waktu. Panggung orasi dan setiap demonstrasi telah kita geluti bersama. Setiap helain kertas kita hidangkan dan rajut dalam meja bundar. Lemparan peluru dari mulutnya menyasar bagai paradigm pun sebagai stigma. Seraya berjaung, berharap dan bercita-cita, ternyata lunglai lagi lalai, surut dan hanyut terpenggal oleh zaman. Diri kita tidak mampu bertahan dalam tantangan zaman. Zaman yang dipenuhi nafsu, dipenuhi kegelapan dan pola pikir yang semakin absurd (Albert Camus). Jika pada saat itu, pelarian kita adalah dengan membaca buku dan jika saat itu perlawanan kita adalah dengan demonstrasi. Namun hingga saat ini, pelarian dan perlawanan kita seakan telah terkikis dan tergerus oleh ombak.

Tidak adami wan, mau begitu. Semua pikir diri sendirimi orang, cepat selesai, kerja dan menikah. Enak mi kehidupangan kalau begitu. Siapa mau panas-panasan, ededeh masih jam berapa ini. Itumo adik-adik suruh demo. Kita jangan mi. Apa mau dipresentasikan ini, nah ditauk semuami. Sibuk semuami orang kerja tugas Wan, kau jarang ikut kuliahmu” sejumlah percakapan untuk introspeksi yang biasa saya telan.
Cerai berai dimana-mana.Persatuan semangat kebangsaan tidak mampu lagi kita dapati dalam ‘lingkungan’ ini. Persatuan akan perlawanan, kian sumbing dan bahkan jadi arang untuk saat ini. Beberapa kalangan baik saya, kita dan mereka, ‘teralinasi’ (Karl Marx). Beberapa dari mereka terdogma oleh kenikmatan dunia. Beberapa dari mereka ‘terpenjara’ dalam sikap apatisme dan beberapa dari mereka mendekam dibalik jeruji dunia. Penjara-penjara itu tidak mampu ‘lagi’ kita luluh lantahkan seperti ‘dulu’. Penjara-penjara itu, semakin menghulu dalam tirani. Apatah lagi berbicara ‘hilir’ yang telah tercabik oleh egosentris (Kritik Tan Malaka).

Pada tulisan ini, melalui tulisan ini. Saya tidak ingin berbicara mengenai negara. Saya tidak ingin berbicara mengenai geopolitik international (Samuel Hauntington, Francis Fukuyama, Antonio Gramsci) dan yang terjadi. Saya hanya ingin menuliskan hilangnya kemerdekaan pada diri saya (Jean Paul Satre Satre) Ingin menjejaki paradigm persatuan Ir. Soekarno, Politik Harmonis dan Santun dari Anas Urbaningrum dan kadar Intelektual dari Anies Baswedan.

.Jika Ir Soekarno mampu berpijak tanpa berpihak (Api Sejarah 2). Jika pada saat itu, Anas Urbaningrum (Takdir Demokrasi: Politik untuk Kesejahteraan Rakyat) mampu berkontestasi tanpa memenggal, dan jika pada saat itu Anies Baswedan (Melunasi Janji Kemerdekaan Kita) dengan kompleksitasnya mampu berkontemplasi disetiap zaman. Sering kali gapaian itu gagap di simpang jalan, kering dibelantara hutan dan gelap dalam cahaya.

Proyeksi Jati Diri Untuk HUT RI Ke 73: Bakar Arang Itu dan Berkisah

Dipinggir jalan ini, di Jalan Hertasning Makassar (14/8/2018), saya kembali melanjutkan tulisan ini untuk mempersembahkan kepada Kemerdekaan HUT RI Ke-73. Saya tidak mampu menulis lebih jauh dan dalam lagi. Kata-kata itu mulai memudar seiring dengan semangat yang terkikis, Ia telah habis terbakar dan menjadi arang.

Namun, impian dan cita-cita itu masih saja meninggalkan jejak untuk kita jejaki kembali. Hal itu bisa, salah satu teman yang kini mulai hadir dan terbit dipermukaan. Ia terus mensyairkan semangat itu, sembari mencabik-cabik sikap apatis dan stigma itu. Berambut gimbal, kita seperti menyelami jati diri yang telah ‘terkubur atau dikubur’. Semangat persatuan dan penyatuannya, terus berhembus dalam geraknya.

Biar berapa turun saja, jangan mau banyak. Mau diapa banyak kalau kabur, yang adamo dulu kita bangun gerakan. Perlahan-lahan kasih turun. Apapi ini, tidak ada lagi yang pandu kita seperti dulu, kita mami ini yang terus genjotki. Sediakanmi toak dan bendera jadimi itu, mau berdua atau bertiga saja terserah,” sejumlah kata-kata ‘Mereka’.
Sejumlah tunas-tunas telah lahir menebar bibit-bibitnya dibelantara hutan yang tandus, dengan nyanyiannya romansa, ia hempaskan bagai boomerang yang mengundang nyali membangkitkan semangat.

Pledoi HUT RI Ke 73, Menggugat Jati Diri
Merujuk kisah Ir Soekarno, dalam buku Api Sejarah 2. Walaupun dirinya telah membusuk hingga dalam kubur telah menyisahkan tulang belulang. Diumur 14 tahun ia mulai membuka dan melebarkan sayap dan aktif dalam Jong Java. Ia bersikukuh dalam penjara (1929) dan pada  tahun 1938. Kisah tersebut, jika menyelami pelik demi memetik semangat kebangsaan. Saat ini sungguh jauh berbeda.

Nuansa dan romansa perjuangannya tidak akan hilang. . Ia tidak pernah padam, walaupun pasang surut ia selami bersama guru dan teman-temannya. Semangat itu terus menggelombang menghempaskan semangatnya kepada kalangan pemuda, hingga semangat revolusi terikrar dalam kalangan pemuda pada peristiwa Rengasdengklok.

Terciptalah semangat kemerdekaan dan persatuan, menggemalah semangat pembebasan. Ibu pertiwi yang lama terpejara dalam relung-relung kolonialisasi baik secara fisik dan paradigma. Kini bebas pada 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan semangat 17 Ramadhan bulan suci kaum muslim. Turunnya wahyu untuk seluruh bumi dan alam semesta ini kepada Nabi Muhammad SAW.

Memperingati HUT RI Ke 73, pada kali ini dan melalui tulisan ini. Mari kita kobarkan semangat kebangsaan dan persatuan itu. Mari kita hadirkan kembali wahyu-wahyu itu dalam relung kalbu yang semakin bias. Mari kembali rekatkan dan lekatkankan semangat itu sebagai ujung tombak menembus perisai para borjuasi. Mari kita yakinkan, bahwa usaha kita akan terdarma baktikan dalam setiap aktivitas kita. Walaupun itu dengan menulis, diskusi, dan dimanapun kita berada, itu adalah Massa Aksi.

Pada kali ini, melalui tulisan ini. Saya menutup dengan mengangkat ayat suci Al-Qur'an, sebagai syair dan seruan "Rahmatan Lil Alamin", sebagai seruan selamat dunia dan akhirat, sebagai pedoman perjuangan dan pergerakan seluruh makhluk dimuka bumi ini. Demi tegaknya kebenaran. 
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (QS. 3:104)

Komentar

Trending

Pembaharu yang di Hiraukan

Ada banyak negara telah memasuki era digital. Mereka memberikan gagasan dan menciptakan perabotan era digital. Mereka memperbaiki dan mengatur sedemikian rupa era ini. Era yang sangat memudahkan manusia untuk berselancar di jagat dunia Maya. Memudahkan berbagai aktivitas manusia dengan berbagai teknologi yang digagas dan ciptakannya.  Secara historis dalam buku etika protestan dan spirit kapitalisme, Max weber, di awali dari revolusi industri Inggris dan Perancis.  Walaupun ada perdebatan awal mula dari penggunaan mesin, sebut saja pada zaman Mesir kuno. Akan tetapi, pemikiran lebih tertuju pada zaman  revolusi tersebut. Kemudian semakin memuncak ketika zaman perang dunia I dan kedua II.  Setelah mesin kemudian mengambil alih kegiatan manusia, maka rongrongan teknologi dan peralihan zaman kemudian melaju amat cepat dibandingkan sebelumnya. Memasukilah zaman yang dikenal pos-industrial yang menurut Daniel Bell dalam buku "Pembunuhan yang selalu gagal" mengemukaka...

Mark Twain: Anak Yang Malang Si Pemandu Sungai Benua Amerika

Kota kecil dipinggir sungai Mississippi Amerika Serikat di Hannibal, lahir penulis muda nan cerdas bernama Samuel Langhorne Clemens atau Mark Twain.  Karya karya monumentalnya melejitkan namanya dalam tiap perjalan, hingga dijuluki sebagai " The Great American Novel, ". Berstatus ada apanya alias hidup mapan dengan rejeki ayahnya sebagai hakim atau glamor diumur belia, ternyata sangat singkat bagi Mark Twain untuk berpoyah-poyah. Ia melihat pembunuhan, rasisme dan kematian ayahnya. Sungai yang biasa ia pandangi, berubah menjadi lumpur.  Sekujur tubuhnya lapar dan haus. Mark Twain putus sekolah layaknya kisah anak Indonesia. Ia, bekerja tukang cetak diusia 12 tahun dan dibayar hanya dengan menyuapi cacing-cacing perut yang sedang marah. Nasib sial Mark Twain makin menjadi-jadi. Ingin menikmati hidup layaknya anak remaja, malah yang ia dapat banting tulang untuk sesuap nasi dikala remaja, lagi dan lagi. Di usia 17 tahun, ia memutuskan pindah dan bekerja pemandu sungai, di...

Logika dan Harmonisasi

Kata logika telah terdengar dan terucap basi. Logika, sering kali diucapkan sebagai cara analisis kita. contoh familiarnya,"Bagaimana logikanya", "ah tidak logis".  Akan tetapi, ketika bangunan logika belumlah tertata rapi, maka akan menghantarkan kepada analisis, penilaian, dan hasil yang subjektif. Dampak dari ini, akan membawa kepada disharmoni, dan degradasi pemikiran manusia yang beragam.  Membangun logika pun itu tidak mudah. Minat kita yang menjadi persoalan dan begitupula pada kajian logika yang dipandang oleh masyarakat, oleh kita, hanya sebuah biang kebingungan, kepusingan dan kegilangan dalam mempelajarinya. Padahal, itulah logika, mengapa kita pusing, gila dan bingung, karena pengetahuan kita sebelumnya bertolak belakang dengan apa yang seharusnya menjadi landasan pemikiran, dan analisis kita dalam kehidupan bermasyarakat.  Dampaknya, akan membawa kepada permusuhan, fitnah, individualis, egois, etnisentris, dan berbagai patologi-patokogi yan...