Langsung ke konten utama

Pembaharu yang di Hiraukan

Ada banyak negara telah memasuki era digital. Mereka memberikan gagasan dan menciptakan perabotan era digital. Mereka memperbaiki dan mengatur sedemikian rupa era ini. Era yang sangat memudahkan manusia untuk berselancar di jagat dunia Maya. Memudahkan berbagai aktivitas manusia dengan berbagai teknologi yang digagas dan ciptakannya. 

Secara historis dalam buku etika protestan dan spirit kapitalisme, Max weber, di awali dari revolusi industri Inggris dan Perancis.  Walaupun ada perdebatan awal mula dari penggunaan mesin, sebut saja pada zaman Mesir kuno. Akan tetapi, pemikiran lebih tertuju pada zaman  revolusi tersebut. Kemudian semakin memuncak ketika zaman perang dunia I dan kedua II. 

Setelah mesin kemudian mengambil alih kegiatan manusia, maka rongrongan teknologi dan peralihan zaman kemudian melaju amat cepat dibandingkan sebelumnya. Memasukilah zaman yang dikenal pos-industrial yang menurut Daniel Bell dalam buku "Pembunuhan yang selalu gagal" mengemukakan di era ini lebih terspesialisasi dan berangkat dari teoritis ke praktis, dibandingkan masyarakat industri yang praktis ke teoritis. Penekanan yang lebih ditujukan kepada masyarakat terdidik yang berangkat dari lembaga pendidikan.

Setelah itu ada juga yang membagi zaman ini atau di abad 21, zaman modernisme dan juga zaman post-modernisme yang sampai saat ini masih di perdebatkan. Sedangkan menurut Jurgen hebermas, saat ini kita berada dalam zaman tekno-economic.

Perkembangan dan pembaharuan semakin terus di suarakan. Berbagai zaman tersebut, apalagi era digital membawa pelik dan petikan yang terus di perdebatkan hingga saat ini. Kapitalisme ortodoks ke neo-kapitalisme begitupula dengan liberalisme yang merasuki berbagai ranting-ranting aktivitas masyarakat hingga masuk ke dalam diri manusia.

Berbagai ahli, mengatakan 'zaman ini tak dapat dihindari, akan tetapi kita dapat menjadi pembaharu'. Saya setuju dengan kata-kata tersebut. Akan tetapi, di era digital ini, tampak sebuah gejala, berdasarkan pembagian negara menurut kalangan eropa untuk Indonesia yakni Negara Berkembang, merupakan bibit memupuknya gejala yang disebut oleh Jean Baudillard sebagai hyperrealitas. Sederhananya, manusia sulit untuk berkontestasi dan menjadi manusia copy paste. Menjadi weternisasi, arabisasi, dan mengambil produk budaya tanpa filteralisasi.

Kemerosotan ini, semakin gandrung berada di sekitar kita termasuk saya. Ketika sebagian kalangan ingin mengaplikasikan pesan ahli sebagai pembaharu, sebagian kalangan malah sibuk untuk bersenang-senang dalam keterasingannya, atau gejala alienasi. Maksudnya mereka bersuka ria dalam konsumeris.

Mewujudkan pembaharu, semakin sulit ketika kontestasi politik semakin hangat yang berada pada politik kiri ataukah regresif politik menurut Lyotard. Walau, segala gagasan atau pilihan menurut bursh tak lepas dari kepentingan dan begitulah seseorang haruslah memulai hingga menyelesaikannya. Akan tetapi, kepentingan itu sering dan bahkan selalu tersemat adalah sebuah hegemoni monopolis.

Tak ayal, pembaharuan selalu mandek. Tak ayal, pembaharu di hiraukan. hal ini sungguh tidak relevan disaat sebuah bangunan yang pada mulanya menjulang, kini terlihat rapuh, retak dan menunggu kehancurannya. Ada banyak sebab mulai dari "konstitusi" yang di selewengkan dan ditafsirkan sesuai kehendak. Sehingga, ketika sebuah pembaharu bergerak lurus menjemput matahari, maka yang terpampang di depan kita menjadi absurd dan bahkan kita kecewa karena pembaharu di tolak mentah-mentah dan terabaikan.

Pembaharuan pun tertinggal tanpa dukungan. Kesibukan etnisentris, egosentris, individualisme, dan komunal-komunalnya, kian merasuki hingga menjadi penebar bibit malapetaka. Padahal, dalam sebuah kebaharuan dibutuhkan dukungan. Begitupula menelisik jauh rangkaian kisah heroik pra kemerdekaan, kemerdekaan hingga reformasi. Selalu ada yang dalam inti sari Pancasila yang disebut oleh Ir. Soekarno dalam buku 'Dibawah Bendera Revolusi' yakni gotong royong. Ciri khas bangsa Indonesia.

Mau di apa, gejolak sistem kapitalisme dan liberalisme kian memasung manusia hingga ketertinggalan kita, yang mana Indonesia semakin digiring kepada masalah multidimensional. Gencar saat ini, pemerintahan semakin sadar untuk mewanti-wanti budaya bangsa Indonesia.

Apalagi saat ini jumlah pengguna internet atau peselancar Dunia Maya semakin menggeludak, sebagaimana survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) mengungkap bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia kini telah terhubung ke internet. Survei yang dilakukan sepanjang 2016 itu menemukan bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet. Adapun total penduduk Indonesia sendiri sebanyak 256,2 juta orang (Kompas: 2016).

Banyangkan pengguna internet dan teknologi digital saat ini, sungguh sangat mengagungkan karena seluruh negara, terhubung dan hanya tertinggal sedikit batasan yakni diri manusia itu. Keuntungan  masyarakat Indonesia, bisa merasionalisasikannya segala bentuk informasi itu. Jika tidak, malah kesialan yang menghantam kita. Apalagi jika kita, termasuk saya, hanya jadi biang keladi pemupuk kapital-kapital asing tersebut atau sebagai konsumen.

Melihat sekterianisme semakin mendogma manusia dan bertebaran bak virus di dunia Maya. Ketika bangsa lain, semakin menghegomoni tanpa jubah agama. Kita malah sibuk memusatkan pikiran menyelesaikan masalah yang di wariskan ini. Dr. Zakir Naik mengatakan cukup katakan dan berikan 'saya muslim'.  atau kata yang sudah basi, 'saya adalah seluruhnya' ringkasan kata Ahmad Wahid yang lengkapnya dalam 'Pergolakan Pemikiran Islam'.


Sedikit kata yang pernah saya ingat, dan kata ini adalah kutipan buah diskusi yang saya lupa, siapa yang mengatakannya. Berangkat dari kisah habil dan kabil. Tentu kita telah ketahui, bagaimana cerita tersebut. Inti dari pesan diskusi itu, Kebaikan selalu di bunuh oleh Kejahatan, ksatria selalu mati lalu di kenang. Begitupula ketika Kabil membunuh habil, saat itulah Isak tangis menghampiri Kabil kepada Habil. Pesannya mungkin sifatnya subjektif,

"kita haruslah maju walau banyak penghambat disekitar kita dan tetaplah yakin pada usaha ini, walau tetap akan dibunuh."

Komentar

Trending

Mark Twain: Anak Yang Malang Si Pemandu Sungai Benua Amerika

Kota kecil dipinggir sungai Mississippi Amerika Serikat di Hannibal, lahir penulis muda nan cerdas bernama Samuel Langhorne Clemens atau Mark Twain.  Karya karya monumentalnya melejitkan namanya dalam tiap perjalan, hingga dijuluki sebagai " The Great American Novel, ". Berstatus ada apanya alias hidup mapan dengan rejeki ayahnya sebagai hakim atau glamor diumur belia, ternyata sangat singkat bagi Mark Twain untuk berpoyah-poyah. Ia melihat pembunuhan, rasisme dan kematian ayahnya. Sungai yang biasa ia pandangi, berubah menjadi lumpur.  Sekujur tubuhnya lapar dan haus. Mark Twain putus sekolah layaknya kisah anak Indonesia. Ia, bekerja tukang cetak diusia 12 tahun dan dibayar hanya dengan menyuapi cacing-cacing perut yang sedang marah. Nasib sial Mark Twain makin menjadi-jadi. Ingin menikmati hidup layaknya anak remaja, malah yang ia dapat banting tulang untuk sesuap nasi dikala remaja, lagi dan lagi. Di usia 17 tahun, ia memutuskan pindah dan bekerja pemandu sungai, di...

Logika dan Harmonisasi

Kata logika telah terdengar dan terucap basi. Logika, sering kali diucapkan sebagai cara analisis kita. contoh familiarnya,"Bagaimana logikanya", "ah tidak logis".  Akan tetapi, ketika bangunan logika belumlah tertata rapi, maka akan menghantarkan kepada analisis, penilaian, dan hasil yang subjektif. Dampak dari ini, akan membawa kepada disharmoni, dan degradasi pemikiran manusia yang beragam.  Membangun logika pun itu tidak mudah. Minat kita yang menjadi persoalan dan begitupula pada kajian logika yang dipandang oleh masyarakat, oleh kita, hanya sebuah biang kebingungan, kepusingan dan kegilangan dalam mempelajarinya. Padahal, itulah logika, mengapa kita pusing, gila dan bingung, karena pengetahuan kita sebelumnya bertolak belakang dengan apa yang seharusnya menjadi landasan pemikiran, dan analisis kita dalam kehidupan bermasyarakat.  Dampaknya, akan membawa kepada permusuhan, fitnah, individualis, egois, etnisentris, dan berbagai patologi-patokogi yan...