Langsung ke konten utama

Maju, Berkembang atau Mengambang

Tahukah Indonesia saat ini, ia telah berada dimana?. atau tidak usaha kita terlalu jauh membicarakan negara. Kita ambil sampel yakni sebuah organisasi atau komunitas. Organisasi atau komunitas, tidak henti-hentinya merajut asah demi sebuah kemajuan, perkembangan.

Hal tersebut, bagi organisasi tersebut sangatlah urgen dan setiap organisasi memang telah memiliki potensi demikian. Potensi tersebut dapat teraktual kan dan juga tidak. Bergantung pola atau sistem dan prosesnya menjalankan sistem.

Sistem tersebut demikian tidak hanya jadi tolak ukurnya. Ada sebuah nilai yang harus dipupuk demi aktualnya potensi tersebut. Namun, ketika nilai di kontrakdiksikan dengan sebuah bentuk, apapun itu. Maka potensi tersebut, akan semakin nyata dan terasa. Nyata tidak teraktualkan dan terasa tidak bertranformasi.

Kontrakdiksiksi itu bisa berupa keindividiuan, dan subjektifitas dalam memandang segala sesuatu. Pasalnya, nilai-nilai itu adalah sebuah ikatan persuasif dan kekerabatan. Ketika ia di benturkan, ia mudah gugur dan hancur. Ia mudah hengkang dan sirna.

Kontrakdiksi itu pula biasa di perdebatkan dalam sebuah wacana yang sifatnya intolerir. Umumnya, wacana adalah kekuatan gagasan yang di pupuk begitu lama. Hingga, ia menyebar dalam sebuah bentuk yang tidak dapat di pungkiri perpecahan yang.

Selanjutnya yang paling parah adalah sebuah sindikat. Sindikat yang telah memandang individu jauh hari kemudian. Ia hanya mampu dan memang sangatlah lebih mudah ketika ia di hadapkan pada persoalan persekongkolan dan sebuah penyebaran isu yang kurang relevan. Mengapa, karena hanya itu dialah mampu. Komunal tersebut hadir, karena telah memikirkan esok atau kedepannya. Hingga, ia dan diantaranya merasa terancam dalam berbagai kegiatan. Akhirnya, ia tumbuh bagai beni, menghantam seluruh pelosok yang mengaktual bagai parit.

Mari menganalisis, atau tidak perlu jauh lagi, mari kita bayangkan. Patologi tersebut sering meradang diberbagai tempat, hingga melibas segala bentuk demi adanya sebuah kelupaan perjuangannya. Demi hadirnya sebuah perpecahan dan hilangnya solidaritas atau kekeluargaan. Maka tidaklah heran jika ini banyak terjadi.

Membacanya dalam kehidupan personal pun tidaklah susah. Ia biasa berbeda dalam segala hal. Ia berwacana dengan sebuah tirai yang menutup. Ia tertawa dengan tangan yang mengepal. Ia melihat sembari berhadapan dengan tembok. Ia melirik sembari melempar sebuah pedang. Ia memakan sembari meludah dengan racun.

Inilah bentuk kegamangan dalam negara atau sampel tersebut. Ia gaung namun ia gamang. Ia maju, berkembang namun mengambang. Inilah fakta di sekitar kita. Jangan heran, jika idealisme yang terbangun dalam solidaritas kemudian hilang. Untunglah masih ada yang sukarelawan yang maju bersama, bukan mewakilkan sebuah kemajuan dan bukan pula meriwayatkan sebuah perjuangan.

Sukarelawan pun jangan sampai dianggap yang tidak bukan-bukan. Ia putih, seputih tanpa intrik. Ia menghitam, sehitam tanpa memudar. Namun, seputih dan sehitam, masih di pandang mengabu. Inilah anehnya sebuah kemajuan, perkembangan namun mengambang, apalagi dalam pijakan yang tidak mengenang.

Komentar

Trending

Pembaharu yang di Hiraukan

Ada banyak negara telah memasuki era digital. Mereka memberikan gagasan dan menciptakan perabotan era digital. Mereka memperbaiki dan mengatur sedemikian rupa era ini. Era yang sangat memudahkan manusia untuk berselancar di jagat dunia Maya. Memudahkan berbagai aktivitas manusia dengan berbagai teknologi yang digagas dan ciptakannya.  Secara historis dalam buku etika protestan dan spirit kapitalisme, Max weber, di awali dari revolusi industri Inggris dan Perancis.  Walaupun ada perdebatan awal mula dari penggunaan mesin, sebut saja pada zaman Mesir kuno. Akan tetapi, pemikiran lebih tertuju pada zaman  revolusi tersebut. Kemudian semakin memuncak ketika zaman perang dunia I dan kedua II.  Setelah mesin kemudian mengambil alih kegiatan manusia, maka rongrongan teknologi dan peralihan zaman kemudian melaju amat cepat dibandingkan sebelumnya. Memasukilah zaman yang dikenal pos-industrial yang menurut Daniel Bell dalam buku "Pembunuhan yang selalu gagal" mengemukaka...

Mark Twain: Anak Yang Malang Si Pemandu Sungai Benua Amerika

Kota kecil dipinggir sungai Mississippi Amerika Serikat di Hannibal, lahir penulis muda nan cerdas bernama Samuel Langhorne Clemens atau Mark Twain.  Karya karya monumentalnya melejitkan namanya dalam tiap perjalan, hingga dijuluki sebagai " The Great American Novel, ". Berstatus ada apanya alias hidup mapan dengan rejeki ayahnya sebagai hakim atau glamor diumur belia, ternyata sangat singkat bagi Mark Twain untuk berpoyah-poyah. Ia melihat pembunuhan, rasisme dan kematian ayahnya. Sungai yang biasa ia pandangi, berubah menjadi lumpur.  Sekujur tubuhnya lapar dan haus. Mark Twain putus sekolah layaknya kisah anak Indonesia. Ia, bekerja tukang cetak diusia 12 tahun dan dibayar hanya dengan menyuapi cacing-cacing perut yang sedang marah. Nasib sial Mark Twain makin menjadi-jadi. Ingin menikmati hidup layaknya anak remaja, malah yang ia dapat banting tulang untuk sesuap nasi dikala remaja, lagi dan lagi. Di usia 17 tahun, ia memutuskan pindah dan bekerja pemandu sungai, di...

Logika dan Harmonisasi

Kata logika telah terdengar dan terucap basi. Logika, sering kali diucapkan sebagai cara analisis kita. contoh familiarnya,"Bagaimana logikanya", "ah tidak logis".  Akan tetapi, ketika bangunan logika belumlah tertata rapi, maka akan menghantarkan kepada analisis, penilaian, dan hasil yang subjektif. Dampak dari ini, akan membawa kepada disharmoni, dan degradasi pemikiran manusia yang beragam.  Membangun logika pun itu tidak mudah. Minat kita yang menjadi persoalan dan begitupula pada kajian logika yang dipandang oleh masyarakat, oleh kita, hanya sebuah biang kebingungan, kepusingan dan kegilangan dalam mempelajarinya. Padahal, itulah logika, mengapa kita pusing, gila dan bingung, karena pengetahuan kita sebelumnya bertolak belakang dengan apa yang seharusnya menjadi landasan pemikiran, dan analisis kita dalam kehidupan bermasyarakat.  Dampaknya, akan membawa kepada permusuhan, fitnah, individualis, egois, etnisentris, dan berbagai patologi-patokogi yan...