Langsung ke konten utama

Postingan

Pancasila Diselimuti Kegelapan: Distorsi atau Kredo?

Oleh : Ksatriawan Zaenuddin Sebagaimana pergantian musim saat ini, tampak kita hadapi awan tebal menyelimuti langit. Di bungkus, dibasahi, dan diwarnai oleh kegelapan. Hanya sepijar cahaya nampak. Memohon menyeruak dilebatnya awan yang membentuk perisai. Hanya sedikit waktu mengisi keseharian, baik itu pagi, siang, sore dan malam hari. Bergandengan tangan, memadu kasih, dan membingkai kisah romantis penuh suka dan duka. Ayu atau layu atau bahkan mematikan berbagai kehidupan dari kegelapan musim saat ini.  Tak kalah senasip dengan kondisi bangsa saat ini. Mungkin ini adalah pergantian musimnya bangsa. Musim dimana bangsa sedang dibungkus, dibasahi dan diwarnai oleh kegelapan yang meringkus sejumlah masyarakat menanti cahaya menembus kegelapan. Sejumlah pergerakan sebagai perisai dan senjata, malah ayu atau bahkan layu oleh moleknya musim saat ini. Seakan mereka sedang terninabobokkan dari hyperrealitas (Jean Baudrillard: Daniel Bell, 2002), dan regresif politik (Lyotard), yang se...

Di Tanah Eropa, Duka ke Suka

 Saat bersama teman-teman mengadakan penelitian di suatu daerah yang sangat misterius. Daerah tersebut, sangat eksotis, ramah dan keber-agamaan yang cukup tertata rapi. Suatu daerah yang relatif masih baru. Menurut pak kadis sendiri, masih berumur 15 tahun, dari hasil pemekaran Polman, semoga infonya benar. Daerah ini dinamai Mamasa.  Kabupaten yang pembagunannya masih relatif lambat, tak terlihat bangunan menjulang dan megah layaknya sebuah kota. Daerah ini jika ingin ditempuh dari Makassar ke Mamasa, lumayan dekat yakni "12 jam", cukup buat pantat anda datar dan perut mules. Perjalanannya juga cukup mengesankan dan mencengangkan,  jalur yang penuh tantangan, jalan berliku-liku, menukik dan terjal, cukup buat, perasaan anda "dak dik Duk", dan "pusing kepala Barbie." Apalagi, jika terdapat mobil didepan anda yang "lumayan kecil" yakni truk atau bus, seperti yang saya tumpangi bersama teman-teman, ditambah jalan berlubang, bersiaplah anda unt...

Opini: Tapak Wajah Asing, Menapaki Bangsa

Oleh: Ksatriawan Zaenuddin Realitas saat ini, terdapat 21.000 warga asing ilegal yang menjamah Indonesia. Warga asing, tidak seketika itu tiba di Indonesia, akan tetapi terdapat suatu agenda-agenda yang memang sudah dicanangkan oleh pemerintah secara terselubung dimana nyata kita dengar dan lihat, terdapat kekentalan polarisasi ekspansi yang sedemikian cepat merambah hampir sebagian daerah Indonesia. Serangkaian agenda pemerintah seperti pembebasan visa, dan berbagai regulasi" yang memudahkan untuk masuknya berbagai tenaga asing ilegal dan memudahkan untuk menjamah basis ekonomi Indonesia, ke swastanisasi yang telah konkrit kemana arahnya. Sehingga, ketika ekonomi telah dikuasi oleh swasta yang berkiblat ke kapital asing, maka goncangan ekonomi tak dapat kita hindari.  Menarik uang, maka ekonomi ambruk, menyimpan uang, maka investasi bergulir dengan kiblat berbeda.  Namun, jika seluruh perusahaan yang di swastanisasikan memiliki satu kiblat, maka telah nyata terlihat kemana ...

SEWANG

SEWANG Oleh: Kakanda Kaisar Sedari pagi dia berada di sana. Entah sudah berapa batang rokok dia habiskan dalam lamunannya itu. Akhir-ahir ini dia memang sering terlihat di tempat itu. Dia biasa berjam-jam duduk disana hingga maghrib tiba. Duduk diatas sebuah batang mangrove besar yang akarnya menyembul dari dalam air sembari membiarkan kakinya dibasahi oleh air laut. Dia bisa merasakan aroma garam pekat yang terbawa oleh angin laut ke pantai dan menerpa wajahnya. Dia cukup nyaman akan hal itu, dan jika sudah demikian pikirannya akan melayang-layang dalam lamunan yang jauh. Membayangkan peristiwa-peristiwa yang telah lalu dalam hidupnya, dari masa ketika ia kecil hingga yang baru saja terjadi, dari pengalaman bahagia hingga yang duka. Jika ada kebetulan orang lewat lalu menanyakan keberadaannya di sana, dia akan mengatakan bahwa dia sedang melihat-lihat ikan. jawaban aneh itu kan terus diulang-ulang jika ada lagi yang bertanya setelahnya. Orang-orang pun tak ingin bertanya lebih jauh,...

Rekonstruksi Wajah Kebangsaan melalui Jihad Anti-Korupsi

Oleh: Ksatriawan Zaenuddin Korupsi merupakan suatu istilah yang tidak asing lagi didengar dan disaksikan oleh masyarakat Indonesia. Sejak republik ini berdiri, korupsi selalu bersemayam dalam dinamika perkembangan berbangsa dan bernegara. Bahkan begitu ruyamnya korupsi di Indonesia, seorang wartawan senior Mochtar Lubis mengatakan, praktik korupsi di Indonesia telah membudaya. Sedangkan Muuhammad Hatta pun demikian, bahwa korupsi sudah menjadi seni dan bagian budaya bangsa Indonesia. Terlihat hampir semua elemen negara baik eksekutif, legislatif dan yudikatif terjangkit kasus korupsi. Berdasarkan Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1991, bahwa korupsi adalah setiap orang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau oranglain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenanganm kesempatan atau saranan yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Korupsi masih menggerogoti setiap pilar-pilar ba...