SEWANG
Oleh: Kakanda Kaisar
Sedari pagi dia berada di sana. Entah sudah berapa batang rokok dia habiskan dalam lamunannya itu. Akhir-ahir ini dia memang sering terlihat di tempat itu. Dia biasa berjam-jam duduk disana hingga maghrib tiba. Duduk diatas sebuah batang mangrove besar yang akarnya menyembul dari dalam air sembari membiarkan kakinya dibasahi oleh air laut. Dia bisa merasakan aroma garam pekat yang terbawa oleh angin laut ke pantai dan menerpa wajahnya. Dia cukup nyaman akan hal itu, dan jika sudah demikian pikirannya akan melayang-layang dalam lamunan yang jauh. Membayangkan peristiwa-peristiwa yang telah lalu dalam hidupnya, dari masa ketika ia kecil hingga yang baru saja terjadi, dari pengalaman bahagia hingga yang duka. Jika ada kebetulan orang lewat lalu menanyakan keberadaannya di sana, dia akan mengatakan bahwa dia sedang melihat-lihat ikan. jawaban aneh itu kan terus diulang-ulang jika ada lagi yang bertanya setelahnya. Orang-orang pun tak ingin bertanya lebih jauh, mungkin karena mereka tahu betapa tidak pentingnya berbasa-basi dengan seseorang yang hanya menanggapimu sambil lalu.
Namanya adalah Sewang. Dia tak bisa lagi disebut muda, seperempat abad usianya. ini adalah tahun ketujuh sejak kelulusannya di SMA. Dulu ketika di bangku sekolah dia punya mimpi suatu saat akan meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke suatu tempat yang jauh. Sebuah tempat yang sama sekali berbeda dari yang selama ini dilihatnya. Dia menganggap dirinya sudah cukup dewasa dan berani untuk berpisah dengan tanah kelahirannya. Dia seorang siswa yang cerdas dan berprestasi, sejak SD hingga SMA dia sering mendapat beasiswa dari kementrian pendidikan, kadang bantuan dan sesekali prestasi. Karenanya ia mengangankan bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lalu menjadi seorang guru. Namun sejak ditinggal mati ayahnya beberapa minggu sebelum ujian akhirnya di SMA, sebagai satu-satunya pria dan juga sulung praktis hanya Sewang seoranglah yang menggantikan peran sang ayah berjuang menfkahi keluarganya. Bersama dengan ibundanya yang belakangan ini mencoba berjualan jajanan di pasar dan sekolah, mereka berdua bahu membahu menutupi kebutuhan keluarga dan ongkos kedua adiknya yang juga masih sekolah. Sang ayah mati tak meninggalkan apapun. Tak ada sawah ataupun beberapa petak kebun. Ayahnya hanya seorang nelayan, anak buah kapal pula. Namun sebagaimana kata pepatah buah jatuh tak jauh dari pohon. Suatu kesyukuran dikarenakan dia mewarisi keuletan dan kesabaran ayahnya sehingga orang-orang senang padanya dan dia mampu dengan cepat menggantikan posisi sang ayah di kapal.
***
Seringkali hinggap rasa jenuh dan bosan dengan situasi yang dilihatnya belakangan ini. Dia menjadi lebih memperhatikan tiap detil dan setiap peristiwa yang terjadi. Hari-hari di desanya yang berjalan monoton. kesibukan orang-orangnya di pagi hari, Jalan-jalan yang lengang di bawah terik siang hari, dan kesunyian yang menyelimuti desa bila malam turun. Dia merasa waktu berjalan seolah sangat cepat, mengambil apa yang lama kemudian membawanya pergi dan menyisakan hal-hal baru. Namun hal yang baru tak selamanya menyenangkan. Perubahan telah mengubah wajah kampung ini ke titik paling menyedihkan, setidaknya begitu kesan yang ditangkap Sewang. Perubahan pula lah yang memanggil teman-teman sebayanya untuk meninggalkan kampung halaman dan pergi ke kota. Mereka berangkat dengan mimpi-mimpi hidup yang lebih baik sekalipun mereka tahu bahwa nasib tidak akan berakhir lebih jauh dari sekadar menjadi supir angkot atau kuli bangunan. Ada juga yang bahkan merantau sejauh-jauhnya, ke Malaysia misalnya. Mereka mungkin akan bekerja di perkebunan sawit, atau menjadi pembantu rumah tangga. Mengumpulkan uang lalu menikah, dan bila ada rejeki mereka akan kembali ke kampung halaman dan membuka usaha kecil-kecilan. Namun kebanyakan dari mereka tak kembali. Nyaris tak ada lagi pemuda yang tersisa selain beberapa kepala yang bisa dihitung jari. Kehidupan di kampung sudah sedemikian susahnya. Kemarau membuat lahan kebun tak produktif, kalaupun penghujan datang mereka tak bisa terlalu berharap pada hasil tani karena pasar tidak banyak membantu mereka. Impor produk pertanian yang dilakukan pemerintah justru membuat hasil petani kalah bersaing. Sementara melaut menurutnya tidk bisa dijadikan profesi seumur hidup, sebagaimana yang dia dapat dari gurunya di sekolah, bahwa pendidikan seharusnya mengangkat derajat seseorang dari kondisi sosialnya, jika ayahmu seorang petani maka kau harus bergerak melampauinya, jadi insinyur atau PNS misalnya. Itulah yang dimaksud mobilitas menaik, tangga sosial yang lebih tinggi, hidup yang lebih baik. Begitulah dia coba mengingat ingat pelajarannya di SMA dulu. Tapi mengapa dia juga harus berharap menjadi seorang PNS, sementara di sekelilingnya ribuan orang berdesakan untuk menjadi PNS dengan berbakti menjadi tenaga honorer. Ada yang bertahun-tahun bahkan sampai mati belum juga terangkat menjadi PNS, kontras sebagian kecil lainnya bisa dengan mudahnya menyogok dan memanfaatkan kondisi aparat yang korup dan mempraktekkan nepotisme telajang di depan mata. Feodalisme yang kawin dengan politik ala birokrasi yang rusak ini semakin mengecilkan hati orang-orang kecil seperti dia. Memang menjadi seorang miskin di negri ini sangat menyebalkan begitu ia membatin.
***
Sebenarnya niat untuk merantau sudah berberapa kali hendak ia sampaikan kepada ibundanya, namun dia selalu merasa tidak tega. Ibunya adalah seorang yang renta, apalagi penyakit reumatiknya yang kadang kumat begitu saja tak disangka-sangka. Dua adiknya Lebang dan Mina juga masih sekolah, yang satu kelas 2 SMA yang belakangan akan mau masuk ke SMA. dia nyaris tak bisa mengharap lebih banyak kepada orang-orang sekitar, keluarga dekatnya sendiri juga nasibnya tidaklah kalah jelek darinya. Pernah suatu ketika dia iseng-iseng menanyakan kepada ibunya keadaan si Iwan anak dari pak Mantri desa yang konon merantau ke Kalimantan dan suskes di sana. Sang ibu yang tahu niat merantau si anak mencoba memahamkan.
“kamu mau merantau juga? Buat apa? Sudah bagus kau di sini. Membantu ibu menyekolahkan adikmu”.
“Siapa tahu nasib bisa berubah”. Jawab Sewang datar.
“Nasib apa? Si Iwan sukses karena memang dia punya modal. Ayahnya seorang mantri, dia juga punya banyak keluarga di Kalimantan, sementara kau?”
“saya bisa bekerja apa saja bu. Kudengar disana ada banyak tambang, untuk sementara bila belum bisa kerja di Tambang, saya bisa ikut teman-temanku jadi tukang cuci mobil, kenek angkot atau semacamnya lah” jawabnya mencoba meyakinkan.
“Temanmu siapa? Si Ammank? Rasyd, Nawi’? kau tahu kan akhirnya mereka seperti apa? Mereka jadi Bandar narkoba. Sabu-sabu! Dikejar-kejar polisi, keluar masuk sel. Sementara yang lain bisa apa, terkatung katung tidak jelas nasibnya.”
“tapi saya punya ijazah, mereka tidak sekolah. Bukan lulusan mana-mana!”
“ijazah SMA?”
Lalu sejenak suasana hening.
Sewang adalah anak yang penurut, jarang sekali dia menolak bahkan membantah kata orang tuanya. Semua orang di desa tahu itu, dia adalah anak yang pendiam, boleh dibilang hanya berbicara bila dirasa penting. Tidak pernah pula ia meminta atau merengek minta ini itu pada ibundanya, bahkan ketika almarhum ayahnya masih hidup. Namun impian untuk merantau ini, sekali ini dia sangat meminta pengertian ibundanya. Bahwa toh ini bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, mereka juga akan ikut kena bahagia bila sukses di perantauan nanti, begitu pikirnya.
“kalau itu maumu, ibu tidak bisa melarang. Tapi satu hal bahwa hidup akan semakin susah tanpamu. Sebentar lagi adikmu yang kecil akan masuk ke SMA”. lanjut ibunya prihatin.
Perkataan ibunya itu memecah kesunyian malam di pondok kecil keluarga mereka. Antara kerelaan dan rasa berat dalam pernyataannya tersirat bahwa ada perasaan enggan untuk melepas yang pada saat bersamaan tudingan yang menusuk si anak. Sebuah penghakiman yang menempatkannya pada posisi sebagai seorang anak yang tidak bertanggung jawab. Jika ia memilih merantau maka ia akan meninggalkan ibunya sendiri menanggung derita, menelantarkan kedua adiknya yang baru saja akan tumbuh dewasa. Dia merasa akan mendurhakai kedua orang tuanya. Sebuah beban yang maha dahsyat.
Pembicaraan malam itu ditutup tanpa jawaban. Dia belum memutuskan dan dia akan berpikir-pikir lagi.
***
Sudah tiga hari Kapal tidak keluar melaut, si pemilik sekaligus kapten kapal akan melakukan hajatan pernikahan anaknya. Para anak buah kapal termasuk Sewang nyaris tak ada kerjaan. Sebagian menghabiskan waktu dengan pergi ke kebun, sebagian lain mencari-cari apa yang bisa di kerjakan. Sewang sendiri memilih untuk bersantai, menghabiskan hari-harinya di pantai. Dia sering ke sana bila sedang luang. Biasanya dia akan membawa rokok dan kopi hitam yang diisi ke dalam botol yang dibawanya dari rumah sebagai teman menunggu matahari terbenam. Dia senang sendiri, akhir-akhir ini alih-alih ke dermaga yang banyak di kunjungi muda-mudi di waktu sore, ia lebih memilih menyendiri di rumpun mangrove di ujung barat, selain karena tempatnya yang paling strategis untuk melihat sunset, tempat itu juga relatif sepi. Hanya dilewati satu dua orang saja. Di sanalah ia merenung saat ini, berbicara pada dirinya sendiri tentang beban-beban hidup yang kebanyakan juga disimpan sendiri. Di sana pulalah ia mengingat ingat kembali percakapan dua malam yang lalu dengan ibundanya. Tentang niatnya untuk merantau. Ada rasa bimbang dalam dirinya. Satu cita di masa depan telah tertambat pada suatu tempat di seberang lautan ini, dibalik garis carkawala sana. Sebuah pulau yang menawarkan sebuah kesempatan untuk kehidupan yang lebih baik. Namun di satu sisi lainnya ada daya yang mencoba menahan gerak kakinya, mengikatnya dan melarangnya untuk pergi. Terbayang wajah polos kedua adik perempuannya, garis-garis perak uban di rambut ibunya yang telah menua. Terlintas pula segala kehidupan yang telah dilaluinya di desa ini. Orang-orangnya, pantai dan bunyi debur ombak, suara adzan kala maghrib tiba dan segala riuh rendah gossip-gosip dan cerita orang-orangnya yang nampak polos dan apa adanya. Inilah desamu, katanya dalam hati. Jika dipikir, banyak hal telah berubah, orang-orang pergi dari tempat ini menginginkan sesuatu yang baru di luar sana, tapi berapa banyak orang di luar sana yang pergi lalu merindukan kembali kampung halamannya.
Senja telah turun bersamaan dengan isapan penghabisan dari rokok terakhir. dalam sebuah gumaman, asap menyepul dari mulutnya dan melayang-layang di udara sesaat kemudian hilang. Angin dingin yang dibawa oleh laut menandakan sudah waktunya pulang ke rumah. Sewang memasukkan botol kopi ke saku celananya lalu beranjak meninggalkan pantai dibelakangnya bersama segala mimpi-mimpinya akan sebuah hidup yang lain di sebrang lautan sana, sebuah cita-cita yang kini harus di kuburnya dalam-dalam. Dia berjalan meniti undakan pasir yang membawanya kembali ke rumah. Kini di hadapannya berjejeran rumah-rumah kayu penduduk pesisir pantai. Dia lalu takjub dan bertanya pada dirinya sendiri bahwa bagaimana bisa kemarin dia baru saja menganggap bahwa segalanya berubah, tapi hari ini dia mengatakan bahwa sebenarnya tak ada yang begitu berubah. Semuanya masih sama seperti dulu. Tentang bagaimana orang di sini begitu merindukan tempat yang jauh, dan bagaimana mereka yang jauh merindukan tempat disini baginya hanya persoalan antusiasme. Jika antusiasme telah tiada dalam dirimu maka besar kemungkinan segalanya akan terlihat membosankan. Begitu pikirnya. Dan “inilah kenyataan yang ada dihadapanmu sekarang. Disinilah kamu akan hidup, menghabiskan masa mudamu, kau akan tetap menjadi nelayan kemudian menikah dengan salahsatu gadis dari desa ini, membesarkan anakmu lalu mati di tempat ini juga”.
“ ya inilah tempat dimana kamu datang dan akan kembali kelak”. jawabnya mantap.
Komentar
Posting Komentar