Langsung ke konten utama

Di Tanah Eropa, Duka ke Suka

 Saat bersama teman-teman mengadakan penelitian di suatu daerah yang sangat misterius. Daerah tersebut, sangat eksotis, ramah dan keber-agamaan yang cukup tertata rapi. Suatu daerah yang relatif masih baru. Menurut pak kadis sendiri, masih berumur 15 tahun, dari hasil pemekaran Polman, semoga infonya benar. Daerah ini dinamai Mamasa. 

Kabupaten yang pembagunannya masih relatif lambat, tak terlihat bangunan menjulang dan megah layaknya sebuah kota. Daerah ini jika ingin ditempuh dari Makassar ke Mamasa, lumayan dekat yakni "12 jam", cukup buat pantat anda datar dan perut mules. Perjalanannya juga cukup mengesankan dan mencengangkan,  jalur yang penuh tantangan, jalan berliku-liku, menukik dan terjal, cukup buat, perasaan anda "dak dik Duk", dan "pusing kepala Barbie." Apalagi, jika terdapat mobil didepan anda yang "lumayan kecil" yakni truk atau bus, seperti yang saya tumpangi bersama teman-teman, ditambah jalan berlubang, bersiaplah anda untuk berdoa. Jalan tersebut, tepatnya ketika telah melintasi Polman, hanya muat satu arah, sekelas bus dan truk yah, di paksakan. Jadi, selama perjalanan ke Mamasa, saya terus berdoa, berharap tak ada yang menimpa kami berserta seluruh rombongan, berharap kami tak mengeluarkan sesuatu yang aneh, yah menahan dan menahannya, walau sudah di ujung tanduk.

Agenda penelitian saya, bersama rombongan yang berjumlah 3 bus ini, terdiri dari kelas A, B, dan C ang. 015 dan beberapa 014 dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Kebijakan Publik yang di nahkodai seorang wanita/dosen pemberani, gigih, disiplin dan berani, yang terkenal dan dikenal di Fakultas Sosial dan Ilmu Politik, yakni Dr. Nuryanti Mustari atau bunda Yanti. Penelitian kami dibagi dalam beberapa kelompok kecil dalam mewancarai kebijakan di setiap lembaga pemerintah kabupaten Mamasa yang ada.  Penelitian kami mulai dari berangkat pada tanggal Rabu-saptu, tepatnya 11-14.

Saya dan penumpang bus C, terbilang cukup sunyi dari start hingga finish, dari setiap kabupaten, desa hingga Mamasa, terbilang cukup membuat para warga, menoleh ke bus kami, mungkin terucap sebuah pertanyaan fenomenal. Apa yang dilakukan di atas bus?, Kenapa ribut sekali?, Serasa ada yang panggil saya?, Inilah mungkin beberapa pertanyaan, jika anda melihat bus kami, kalian pun akan bertanya demikian. Bus kami, juga sangat misterius, polesan bernuansa klasik nan alami ini, kaca yang memantulkan cahaya aneh, bunyi bus yang cukup indah, kursi yang empuk dan memijat tubuh anda, kesemuanya memiliki efek yang sangat bermanfaat, membuat anda susah tidur dan, "menikmati perjalanan ini dengan indah." Bus kami dengan penumpang yang cukup pendiam, jika biasanya maksimal volume musik 100, maka maksimal volume musik di bus kami, maksimalnya bisa 1000, 10.0000, atau bahkan setuja. Bayangkan, misteriuskan?. 

Pembahasan kami mulai dari masalah nasional hingga regional kami kaji sedalam dan setajam silet, waspadalah. Kami berlatih meneliti, beretorika, dan mensurvei di balik bus kami ini. Kami menahan suara-suara yang di Tabuk entah di mana muaranya. Biasa bersuara jaz, klasik, Rock, metal dan DJ. Terkadang, saya harus mengintip mulut yang lagi bergoyang yang menimbulkan suara "kriuk-kriuk", dan jika intipan dan lirikan mata saya berhasil dengan kode tangan yang memegang pusaran perut, maka sesekali tibalah rezeki itu, tibalah uluran tangan, yang terkadang di tuangkan dan biasanya jika mereka terdeteksi, hanya tinggal hitungan jam, menit atau bahkan detik, durasi 0,0000001 detik, hilang dan lenyap tanpa tahu keberadaannya. Kami juga, sering memainkan alunan musik yang merdu, romantis dan berciri khas, yang sulit di tahan. Sekalipun di tahan, pasti ada telunjuk yang tangan atau kaki, atau dada anda yang bergerak. Bayangkan, dari start hingga ke Mamasa, tak pernah absen genre musik ini yang merdu nan romantis yakni DJ. Bayangkan, Misterius Bukan?.

Tanah Eropa

Setibanya, kami bingung, apakah kami kesasar atau bagaimana?  beberapa dari teman mengatakan termasuk saya, " ini mirip Eropa," dan kami pun mirip orang Eropa." Sebuah guyonan diantara wajah dan badan yang layu. Daerah ini cukup dingin, cukup mengepulkan asap di mulut anda, cukup mengkriputkan kulit anda, cukup menjadikan anda tulang belulang, kemudian dijadikan kondro, apalagi saya dengan bentuk tubuh yang lumayan kekar setebal bambu. Bagi teman-teman yang ingin diet dengan bentuk six pact, mungkin daerah ini bisa di jadikan tips diet anda. Ditambah pakaian kami, yang lumayan tipisnya. Saya sendiri memakai 2 baju kos, 1 kemeja, satu jaket kulit dan satu almamater. Bayangkan, Mencengangkan bukan. Mungkin ada yang lebih parah lagi. Dan ini juga pengalaman bersejarah saya mengenakan pakaian yang lumayan banyak. Menggigil. Kalau di Bantaeng yah, ini dibawah layying 3, atau 2. Atau di daerah Gowa yakni Malino, tapi menurut saya ini, ini jauh lebih mencengangkan. Misterius bukan?.

Malam kami di isi sangatlah romantis, memadukan diri bersama alam, indahnya awan, mengajak berpacaran dinginnya daerah Mamasa, sambil menghangatkan diri bersama kepulan asap rokok yang setia menemani di Baper atau Bawa perut, alias laper. Beralaskan ala kadarnya, asal rokok tetap berkualitas, itu salah satu prinsip saya, yakni "Surya, class mild, atau Sampoerna," mereka is the best. Malam itu juga, kami bercerita menggunakan rumus matematika, yakni Panjang x lebar. Sangat panjang dan melebar, menghasilkan guyonan + ditambah meneteskan air mata, karena tak tahan akan cerita yang sangat sedih mengharukan, hingga mulut tersenyum, terbuka lebar, tak masalah ada yang masuk, jika ada, Alhamdulillah tambahan energi di malam itu, dan di kala kami bangun.

Setelah itu, kami mulai masuk di arena ruangan berhadapan langsung sang kapten, jawaranya. Memberikan tugas yang sangat ringan, untuk mewancarai beberapa pegawai sesuai jumlah anggota di kelompok yang telah di tentukan lembaga apa yang kami mewawancarai. Saya berada di lokasi dinas pertanian dan holtikultura. Sigap, dan lincah, kami di tawarkan untuk bertanya. Saya sontak menyentak, untuk tidak setuju pada jumlah informan atau pegawai yang kami mewancarai. Forum mulai memanas dengan sendirinya, guliran tanya jawab pun terjadi, satu lawan banyak. Alhasil, forum menghasilkan sebuah jawaban yang lagi-lagi romantis dan indah. Perintah nahkoda adalah Absolute. Saya sendiri, menolak ini karena dari pengalaman yang susahnya atau bahkan tak biasanya para informan di wawancarai, yang jarang berbuah penolakan. Tapi mau di apa, dialah nahkodanya, penentu arah.

Banyak teman-teman tidak setuju, dan bahkan melanjutkan di luar forum. Tapi terhenti, ketika bola mata mulai menutup, atau yang paling mencengangkan, ketika Tabukan gendang kembali menyisir perut kami. Tak ada pikiran lain, selain mencari lontong dan makanan yang tersisah, saat  di Maros menuju Mamasa. Daerah tersebut yang saat itu, dimakan di salah satu mesjid yang kami tempati shalat. Alhamdulillah, kami dapat, dan mengambil sedikitnya 10 lontong, atau mungkin lebih. Lauk yang cukup enak, ikan kecil dan tempe kecil juga (saya lupa namanya), ikan bakar yang sudah mendingin, tapi tak apa, persoalan perut yang utama, membahas baik atau tidaknya makanan ini, itu di urutan paling belakang. Setelah makan, perut kenyang, merokok, lalu tidur, menikmati Eropa di tanah Mamasa. Bayangkan, mencengangkan bukan?.

Se-indah Kopi dan Kepulan Asap

"Pagi hari dan minum kopi, bersama sang kekasih rokok Surya, ku padukan dua insan ini, mencapai titik kebahagian yang sempurna, menyeruput dan mengepulkan asap, sebuah kisah romantis menyambut terbitnya sang-surya di tanah Eropa, Mamasa." 

"Ada suara berisik yang memukul apa saja, suara yang lantang, entah apa itu, ternyata sebuah malaikat datang membangunkan menjeput pagi, menunaikan kewajiban sebagai umat muslim.", Lagi, malaikat itu, adalah sang pahlawan, nahkoda kami". Saya selamat dan masih menjemput pagi, setelah shalat subuh, saya kembali mengintip ruangan yang sangat berbahaya jika di dekati, mereka akan berteriak "tunggu, belumpi selesai". Pikiran ini tak tenang, berjalan-jalan sedikit, akhirnya tibalah penantian panjang rokok Surya ini, bertemu kekasihnya yakni kopi. Menyendiri menikmati kopi dan rokok Surya, sembari menghangatkan tubuh di pagi hari. Setelah bercerita panjang lebar dengan sang pemilik tokoh, yang saya tempati minum kopi, kembali lagi saya ke ruangan berbahaya ini, dan akhirnya, Derby Fortuna pun tiba. Saatnya menidurkan Tabukan gendang ini.

Setelah menidurkan tabukan gendang atau suara perut saya, kami mulai masuk pada agenda inti dari perjalan kami yang cukup misterius. Mulailah saya bersama kelompok 7, dimana terdiri 10 kelompok yang masing-masing memiliki tugas mewawancarai lembaga pemerintah yang berbeda di daerah ini. Kami kembali menaiki bus, dan semoga ini berjalan cepat. Setiba kami di tempat penelitian, yang saya lihat cukup menarik. Pertama, sedikit pegawai yang berada di tempat. Kedua, tak sedikit pegawai yang tak ingin di wawancarai. Ketiga, mereka mungkin punya pengalaman pahit. Keempat, ternyata tidak berjalan cepat. Berangkat ke tempat ini, dari jam 9, kami menunggu sekitar 1 jam, menunggu para pejabat vital di dinas pertanian dan holtikultura. Alhamdulillah, lagi-lagi datang keajaiban, akhirnya pak kepala dinas dan pejabat penting di setiap bidang menampakkan hidung, katanya  si- pegawai, pak kepala dinas pergi ke acara pelantikan dan pejabat pentingnya.

Ada yang sangat konyol saat itu, pak kadis, orangnya, raut muka dan namanya saya tidak ketahui. Saya kira hanya pegawai biasa, saya malah sombong "sombong-sombong sedikit" yah, kata melegenda bagi kami. Saya pun mewawancarai yang saya anggap pegawai biasa. Ia jawab penuh, terkadang detail, terkadang pula normatif, yah bahasa pejabat. Setelah itu, saya minta nama, jabatan dan ttdnya. Lucunya, setelah tanda tangan dan menuliskan namanya, saya kembali menanyai, jabatan bapak di sini apa?, Tanya dia. Kata melegenda ini hadir lagi di pikiran saya "sombong-sombong sedikit." Saya tanya yang ia tunjuk, ternyata dia pak kadisnya, yang kami cari-cari, alhasil, seluruh penelitian kami berjalan efektif, mulai dari suka dan duka, dan wawancara, serta data-data yang kami dapatkan. Kami pun pamit, tak lupa mengucapkan salam, walau yang kami kirimkan salam berbeda agama dari kami, dimana kebanyakan pegawainya ber-agama Kristen. Berjalan sekitar 1 km. Kami melihat pemandangan yang kami tunggu, bakso babi, dan tokoh yg menjual khas Mamasa., Ada kopi dan selendangnya. Tapi, kami tidak membeli, cuma bertanya saja, mengakumulasi berat dan tebalnya tonjolan dibagian pantat kami. Ternyata, mencengangkan.  

Setelah melihat, kembali terdengar suara menabuk gendang yang buat kami berhenti di suatu jualan yang buat saya berpikir panjang untuk memasukinya. Tapi setelah masuk, melihat sebuah kutipan ayat Al-Quran, dan ibu yang berkudung, saya menyatakan perang pada Coto ini. Dengan lahap, saya binasakan. Kembali lagi, menikmati kepulan asap. Satu Batang dua Batang, lalu kami bergegas pulang, kembali ke lokasi, bahtera sang nahkoda yang disebut aula mini. Puji syukur, nahkoda lagi tidak ada di tempat. Kami pun leluasa, tidur dan sesekali menuliskan hasil wawancara kami yang di rekam lewat HP.

Malam Misterius

"Sang nahkoda, datang ke bahtrainya, di sambut 10 devisi yang siap menanti tugas dan penilaian sang nakoda. Tapi, ada sesuatu yang terjadi yakni nomena."

Malam itu, malam evaluasi dan penilaian penelitian kami. Sejauh mana kami menyelesaikan tugas ini. Setiap kelompok pun memilih dan maju yang dapat mempresentasikan bagaimana kronologi penelitian ini. Ada yang menjelaskan secara rinci dengan tabiat-tabit yang cukup bikin ngantuk, ada juga kena amukan sang nakoda. Saya sendiri hanya melucu, dan tidak terlalu serius menatap bunda, sang nahkoda bahtera. Alhamdulillah, saya selamat.

Setelah beberapa kegiatan terlewati, ada kegiatan yang lebih misterius. Kegiatan yang menguji mental seseorang. Saya pun, tidak terlalu menyikapi serius, akibat Tabukan gendang dan mata yang mulai menutup, saya hanya berpikir kemana mau cari tempat tidur. Sesekali bercanda bersama teman-teman, untuk menghangatkan suasana para melati kelas kami, kelas C. Di pelopori oleh saudara Arbo, ta'aruf, Wahyu, fahmul, Chandra, Ariel, akhwan, afdal, Fatur, Risman, tysar, dan saya sendiri. Saya dan tentu para mawar, mengamati para melati, agar senantiasa selalu menghadap kiblat, tersenyum sumbriah. Ini pun berhasil, mencegah efek misterius malam ini. Berbondong orang berdatangan, mengakhiri misteriusnya malam ini, tapi, ini berlanjut. Menghantarkan kami, ke kebijakan nahkoda bahterai untuk mengurai agenda ini. Sebenarnya kami setuju akan hal itu, tapi di sisi lain, kami ingin menikmati daerah Eropa ini, provinsi Sulawesi barat. Karena nanggung perjalan kami. Tapi mau di apa, cuss besok perjalanan pulang.

Dari kesal ke menyesak, dari duka ke suka
Pagi hari, seperti biasa kutemui lagi, kopi dan rokok Surya. Bercerita panjang lebar tentang daerah Mamasa. Berapa orang menyatakan jalan yang harus di perbaiki dan perbarui. Ini masalah mereka yang ingin segera di atasi, di tanahnya. Kami pun, tak ingin bercerita panjang lebar mengenai "malam misterius,". Jalan di tanah Mamasa cukup sederhana, lebar hanya muat satu mobil satu arah, padahal, jalan ini di gunakan dua arah.

Dari uraian cerita bapak yang ngumpul minum kopi, dan malam misterius itu, semakin kesal saya disini. Perasaan saya, kembali seperti setiba di daerah Mamasa. Perjalanan pulang, kami di hadapkan dengan banyak misterius. Alhamdulillah semua baik-baik saja. Menginap di tempat pak sopir dan melanjutkan perjalanan di suatu daerah kawasan wisata permandian air panas Pinrang. Kami menunggu lama, pasalnya kami terlalu cepat datang dan kolamnya baru selesai di bersihkan, belum di isi. Lagi-lagi, buat kesal dan menambah duka.

Matahari semakin meninggi, seluruh awak bahterai dan nahkoda menerima sinar sang agung. Ada satu kolam yang terisi full, kami pun masuk dan bergegas,  menuju kolam. Dari kesal yang memupuk ke nyesak yang mengurai, seluruh tawa lebar dan senyum sumbriah terpancar di seluruh awak bahterai. Sesekali, ada guyonan di hangatnya permandian Pinrang. Dan ada banyak aksi, yang bikin tertawa lepas, menceburkan secara paksa baik laki" dan perempuan pun dikibas, di celup lalu di ceburkan di kolam. Ditambah lagi menyesakkan dada, memupuk suka, ketika sang nahkoda, memainkan peran yang cukup, atau lebih dari cukup mengundang tawa seluruh awak, seluruh peserta rombongan. Seakan tangis yang kita dapati sebelumnya, berbuah haru bersama tawa kami dan sang nahkoda. 

Ketika tawa melepas, penuh kebebasan. Bagai terlahir kembali di dunia ini. Cahaya langit kembali kepada seluruh awak. Mengisi Tabukan gendang, dengan penuh terimakasih, kepada sesalah satu teman bernama Fatur, yang sangat dermawan, menelantarkan kami dalam kebahagian ciri khas Pangkep, dengan pesona hidangannya, apalagi sambelnya. Nikmat. Sesekali saya damaikan hidangannya dengan "is the Best" yakni rokok Surya, saya tak tahu berapa banyak yang saya hisap, pokoknya mantap sedaplah hidangannya.  Dari Makassar ke Mamasa, saya lupa berapa rokok yang saya habisi, yang penting kepulan asap tetap ada. Mewarnai perjalanan ini. 

Setelah canda tawa, penuh sumbriah dikala menyapa awak dan nahkoda bahterai, dan Tabukan yang tak lagi di pusat perut, kembali kami gendangkan nyanyian pulang kami yakni DJ, kami pun kemudian berjalan kembali ke Makassar, membawah sejuta duka yang kami sukai, yah, penyuka. Pengalaman berharga di tanah Eropa, Mamasa. 

"Puji syukur Allah SWT,  kami, dan sang nahkoda di perlintasan eropa, melintasi samudra, menderai badai dan ombak, mengguyur belantara bahterai dan kuasa hati khalayak. Merajut asa, menumbuhkan mawar dan melati di Eropa, tanah Mamasa. Kesal yang menyilang pikiran awak, menyesak mengurai silangan duka, menyeruak suka di,  tanah Eropa, Mamasa. Dari duka ke penyuka"

(Perhatian: Seluruh redaksi berada pada tanggung jawab peramu)
















Komentar

Trending

Pembaharu yang di Hiraukan

Ada banyak negara telah memasuki era digital. Mereka memberikan gagasan dan menciptakan perabotan era digital. Mereka memperbaiki dan mengatur sedemikian rupa era ini. Era yang sangat memudahkan manusia untuk berselancar di jagat dunia Maya. Memudahkan berbagai aktivitas manusia dengan berbagai teknologi yang digagas dan ciptakannya.  Secara historis dalam buku etika protestan dan spirit kapitalisme, Max weber, di awali dari revolusi industri Inggris dan Perancis.  Walaupun ada perdebatan awal mula dari penggunaan mesin, sebut saja pada zaman Mesir kuno. Akan tetapi, pemikiran lebih tertuju pada zaman  revolusi tersebut. Kemudian semakin memuncak ketika zaman perang dunia I dan kedua II.  Setelah mesin kemudian mengambil alih kegiatan manusia, maka rongrongan teknologi dan peralihan zaman kemudian melaju amat cepat dibandingkan sebelumnya. Memasukilah zaman yang dikenal pos-industrial yang menurut Daniel Bell dalam buku "Pembunuhan yang selalu gagal" mengemukaka...

Mark Twain: Anak Yang Malang Si Pemandu Sungai Benua Amerika

Kota kecil dipinggir sungai Mississippi Amerika Serikat di Hannibal, lahir penulis muda nan cerdas bernama Samuel Langhorne Clemens atau Mark Twain.  Karya karya monumentalnya melejitkan namanya dalam tiap perjalan, hingga dijuluki sebagai " The Great American Novel, ". Berstatus ada apanya alias hidup mapan dengan rejeki ayahnya sebagai hakim atau glamor diumur belia, ternyata sangat singkat bagi Mark Twain untuk berpoyah-poyah. Ia melihat pembunuhan, rasisme dan kematian ayahnya. Sungai yang biasa ia pandangi, berubah menjadi lumpur.  Sekujur tubuhnya lapar dan haus. Mark Twain putus sekolah layaknya kisah anak Indonesia. Ia, bekerja tukang cetak diusia 12 tahun dan dibayar hanya dengan menyuapi cacing-cacing perut yang sedang marah. Nasib sial Mark Twain makin menjadi-jadi. Ingin menikmati hidup layaknya anak remaja, malah yang ia dapat banting tulang untuk sesuap nasi dikala remaja, lagi dan lagi. Di usia 17 tahun, ia memutuskan pindah dan bekerja pemandu sungai, di...

Logika dan Harmonisasi

Kata logika telah terdengar dan terucap basi. Logika, sering kali diucapkan sebagai cara analisis kita. contoh familiarnya,"Bagaimana logikanya", "ah tidak logis".  Akan tetapi, ketika bangunan logika belumlah tertata rapi, maka akan menghantarkan kepada analisis, penilaian, dan hasil yang subjektif. Dampak dari ini, akan membawa kepada disharmoni, dan degradasi pemikiran manusia yang beragam.  Membangun logika pun itu tidak mudah. Minat kita yang menjadi persoalan dan begitupula pada kajian logika yang dipandang oleh masyarakat, oleh kita, hanya sebuah biang kebingungan, kepusingan dan kegilangan dalam mempelajarinya. Padahal, itulah logika, mengapa kita pusing, gila dan bingung, karena pengetahuan kita sebelumnya bertolak belakang dengan apa yang seharusnya menjadi landasan pemikiran, dan analisis kita dalam kehidupan bermasyarakat.  Dampaknya, akan membawa kepada permusuhan, fitnah, individualis, egois, etnisentris, dan berbagai patologi-patokogi yan...