| Ilustrasi |
Saintek Is God In The Universe
(Sains dan Teknologi Adalah Tuhan di Alam Semesta)
Hasrat soal 80 juta tak mampu menggapai klimaks penerungan jiwa. Barulah diskusi pada Rabu (9/1/2019) di Caffe Cini-Cini mampu membangkitkan libido ini berceceran hingga ke semesta.
"Woww, Kok Bisa?"
Pasalnya, selepas mencicipi tetes terakhir Kopi Teras Kinoi. Saya harus mendengarkan bayolan semenarik yang digelar Komunitas Mata Literasi bertema 'Literasi dan Masa Depan Generasi' dengan membandrol seorang 'berambut putih penuh, kurus kerempeng'.
"Anda Menduga bahwa Ia Orang Barat!..., saya jawab: dugaanmu terlalu rendah".
'Rupa' tak meyakinkan, ia paparkan ke polosok 'kegilaan' berpikir manusia. Ketika kedipan mata setiap orang lebih tertuju kepada botak. Saya balas, saya lebih kepada rambutnya bak salju yang mengalami erosi di gunung Himalaya, bak film serial naruto dengan aktor kakasih hateke.
Rambutnya telah memutih, boleh dikata se-usianya sudahlah jadi 'tua bangka' tak berpenghuni. Namun, tuhan berkehendak lain. Pasalnya ia adalah 'tua-tua keladi' bergelar Professor.
Saya terlambat 20 menit lebih. Pemaparannya begitu ringkas. Menghentak saraf untuk berpikir layaknya kartun saat SMP yakni. #jimmyneutron , kaum positivistik (Baca: Auguste Comte) kedikdayaan Sainstek yang sebut saja generasi micin begitu mengkomodifikasi nafsu konsumeris 'kaum lem Fox, ML dan PUBG dkk' (Jean Baudrillard Kekiniaan).
ADA UDANG DI BALIK BATU
Kedikdayaan-'nya' membawa 'delik' pepatah 'ada udang di balik batu' yaitu erositas kebudayaan Indonesia. Rongrongan sainstek ini, secara interpretasi saya mendengarkan beliau mendengungkan bahwa ada masa dimana generasi ke depannya, ujungnya menghaphs dan menciptakan kebudayaan baru selaras dengan Sainstek atau 'Kebudayaan Sainstek'
Dalam hal ini, saya tidak ingin larut dalam lantunan beliau. Saya mengajukan integrasi kebudayaan dengan teknologi dalam hal ini ekspansi budaya Indonesia melalui Teknologi, contohnya untuk mempermudah insafnya generasi micin maka sudah saatnya membuat komik sejarah kisah raja di Sulawesi.
Sebab, film 'kacci kacci hotahe', dan maha-ka(b)-rata yang mampu dikenali sejuta ummat hingga terjadi peperangan maha dasyat yakni perebutan remote kon-t (+r)-ol. Atau teknologi Islam masa kekhalifaan yang membawa bahasa, perilaku, dll. Inovasi ini wajib bagi warga Indonesia untuk mem-milenial-kan budaya Indonesia.
Akan tetapi, setelah saya menyendiri dalam sunyi di samudra imajinasi bahwa apa yang disampaikan beliau itu justru adalah pembacaan lebih jauh, kiranya 100 tahun atau ribuan tahun akan datang.
Mungkin saja, kata pepatah 'banyol' (cek google arti katanya) bahwa ketika kepala botak di belakang maka susah move on, sebab pikirnya terus dibelakang, kalau botak di samping, selalu pikir perbedaan, kalau botak didepan pikir masa depan, kalau botak semuanya maka memikirkan semuanya.
KEBEJATAN SAINSTEK: KABBAH DI BAWAH PANTAT MANUSIA
Tapi beliau beda, seakan rambut ber- Gen hatake kakasi ini justru berada pada tataran dimensi lain. Soalnya bukan lagi 'future for the world but universe. Pikiran beliau, lebih kontroversial lagi (akal tak mampu) menempatkan Sainstek sebagai 'kekasih pertama dan terakhir bagi umat manusia mengarungi universe (mirip: nonton film Interstellar).
Bahkan lebih gilanya lagi, beliau menganalogikan bahwa ketika sainstek ditempatkan kiranya dapat disebut saja sederajat fase Spritual Makrifat, maka Sainstek akan 'menempatkan' Kabbah berada di bawah pantat Manusia. Saya bukan lagi tidak habis pikir tapi sudah lenyap pikir.
TUHAN TELAH MATI SAAT MENCIPTAKAN ILMU PENGETAHUAN
Pasalnya, kakek tua bangka ini, dengan mudah dan lugasnya menyenut demikian. Hingga pada akhirnya, ia mendayung akalnya telah bermeditasi di luar angkasa. Dimana Manusia akan 'berhijrah' di planet Mars atau di ruang angkasa yang menepatkan bumi berada tepat di bawahnya.
Hal ini juga yang menjadi perdebatan saya dengan kakakku yang lulusan Sarjana Sains. Bahwa ketika manusia mampu berekspansi hingga ke Mars atau Planet lainnya, atau di ruang angkasa.
"Bagaimana nantinya umat Islam itu puasa? bagaimana nantinya arah sholat di planet? ataukah ada nantinya pengganti Kabbah (Baca Hajar Aswad) di Planet lain? Atau dengan kemunculan Sainstek itu membuat manusia untuk membuat kesepakatan baru terkait kepercayaan? atau bagaimana dengan kisah Nabi Adam dan Hawa akan ditinggalkan untuk dikisahkan atau ada kisah yang baru?..."
Walaupun masih ada sesi selanjutnya. Kiranya Prof melebihi film Zeitgeits Addendum yang masih membaca sebatas dunia, dan bahkan kalau bisa menjadi sutradara untuk membuat film yang lebih ngeri dari film ini. Sebab jika anda pernah menontonnya. Film ini hanya lebih menekankan kepada pertentangan identitas dan kedunguaan manusia di dunia ini atau serupa pembahasan buku Amartya Zein berjudul Kekerasan dan Ilusi Tentang Identitas.
Interpetasi saya secara penuh - Saya kemudian mengingat buku tentang Islam Mashab HMI yang ditulis oleh Drs. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag kalau tidak salah buku mengatakan tentang teori Auguste Comte yakni bahwa permulaan alam semesta itu dari Teologi, Metafisik, yang terakhir adalah Positivistik. Pengetahuan atau cucunya yakni Sainstek akan menggantikan peran tuhan di muka bumi ini dan tidak ada lagi campur tangan Tuhan apapun itu. Bahkan secara pribadi sainstek memiliki derajat yang tinggi dalam menentukan kehidupan manusia baik atau buruknya dikaji secara ilmiah untuk mengungkap fakta tentang di Al-Qur'an.
Menelisik derajat Sainstek termaktup dalam Al Mujadilah ayat 11 dll. Disini, sainstek hanyalah alat layaknya jembatan bukan sebagai subjektifitas dan mendahulukan Iman sebagai hal yang paling utama. Apabila tidak demikian, maka bisa jadi bahwa Sainstek Adalah Tuhan di Universe.
Namun saya kembali teringat dengan perkataan Bursh dalam buku karya Yudi Latif Masa Lalu yang Membunuh Masa Depan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan selalu terikat dengan nilai. Dan begitu pula dengan tulisan dkk.
Lantas apabila, Sainstek sebagai senjata revolusi atau kitab bagi generasi sekarang dan mendatang. Maka dengan betul menempatkan nilai pada keutuhan keilmiahaan itu sendiri. Maka bisa saja Sainstek dapat menjadi wakil Tuhan atau bahkan Tuhan sekalipun di Alam Semesta.
Akan tetapi, perlu diketahui neraca keilmiahan itu sendiri yang bermanfaat bagi manusia adalah buatan sebagai patokan dasar atau diibaratkan UUD 1945 dan Pancasila yang menjadi rujukan hingga seluruh program kerja desa dan hingga sampai makan serta tidur dari rakyat Indonesia. Atau menggantinya dengan melakukan Amandemen dengan kajian Ilmiah bahwa terdapat formula baru untuk keberlangsungan negara, dunia dan alam semesta (interpretasikan secara global bagi manusia).
Ataukah mempelintir kata Nietzhe dengan hal ini juga sebagai penutup bahwa
"Tuhan sudah mati. Tuhan sejak menciptakan Alam Semesta, dan Ilmu Pengetahuan. Sainstek telah membunuhnya. Bagaimanakah Sainstek, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur umat manusia sendiri? Sainstek Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki, Tuhan telah berdarah hingga mati oleh Ciptaannya sendiri"...
Perhatian: Tulisan ini mengandung humor, pengalaman penulis dan beberapa hasil diskusi di Cafe Cini-Cini serta Satire.
Sumber Foto di Instagram: @discover.edit
Salut untuk kanda
BalasHapuskelinci99
BalasHapusTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino