Langsung ke konten utama

Logika dan Harmonisasi

Kata logika telah terdengar dan terucap basi. Logika, sering kali diucapkan sebagai cara analisis kita. contoh familiarnya,"Bagaimana logikanya", "ah tidak logis". 

Akan tetapi, ketika bangunan logika belumlah tertata rapi, maka akan menghantarkan kepada analisis, penilaian, dan hasil yang subjektif. Dampak dari ini, akan membawa kepada disharmoni, dan degradasi pemikiran manusia yang beragam. 

Membangun logika pun itu tidak mudah. Minat kita yang menjadi persoalan dan begitupula pada kajian logika yang dipandang oleh masyarakat, oleh kita, hanya sebuah biang kebingungan, kepusingan dan kegilangan dalam mempelajarinya. Padahal, itulah logika, mengapa kita pusing, gila dan bingung, karena pengetahuan kita sebelumnya bertolak belakang dengan apa yang seharusnya menjadi landasan pemikiran, dan analisis kita dalam kehidupan bermasyarakat. 

Dampaknya, akan membawa kepada permusuhan, fitnah, individualis, egois, etnisentris, dan berbagai patologi-patokogi yang terjadi masyarakat atau diri kita bersama-sama. Contohnya, ketika menilai seseorang dan di kehidupan kita, terdapat sebuah kerja akal yang sifatnya subjektif yang memilah atau memisah, dan menggambungkan dari hasil Indra kita. Ketika ia tidak berpandangan holistik atau universal. 

Pemikiran Universal dalam kajian logika Hasan Abu Amar tidak mudah. Terdapat beberapa point atau partikular-partikular yang harus di butuhkan dalam membangun sebuah universal dalam pemikiran. Contoh sederhananya, membeli pizza atau membeli sepotong pizza. Walaupun namanya (accident) pizza. akan tetapi, bentuknya tidak sama, atau Burger, ketika teman memakan dan hanya menyisakan daging atau sayurannya, apakah masih disebut burger?.. tentu tidak. 

Sedangkan contoh dalam kehidupan kita adalah, saat memberi dakwaan kepada teman. Contohnya kamu bodoh, egois, naif, pembohong. Ketika tatanan logika tersusun rapi, atau baik, maka ia akan bertanya, tentu ia memiliki kebaikan, ia sombong di situ, ia naif disana, ia bodoh pada bidang itu. Sehingga tidak ada sebuah penilaian akan bentuk, waktu, dan kondisi tertentu yang bertahan lama dalam pengambilan keputusan, hanya sebagai tambahan pengetahuan, atau dalam merabah kehidupan masyarakat. 

Manakah Universal
Universal hanya dipahami ketika ia sama, dan seluruh kesamaan lainnya. Masyarakat, kita, kurang memandang bahwa partikular-partikular tersebut yang menjadi universalitas pemikiran kita. Hanya dalam pikiran, sedangkan dalam misdaq itu sejauh penahan saya, tidak ada. Karena waktu, tempat dan kondisi ia berada akan berbeda pula apa yang akan di tampilkan. 

Sedangkan kalau kita tarik dalam agama, manusia memiliki kehendak untuk baik atau buruk. Nah kalau sudah di jelaskan akan kedua hal itu yang berada dalam manusia. Lalu, mengapa masih menilai diri seseorang ada jahat sepenuhnya.

Komentar

Trending

Pembaharu yang di Hiraukan

Ada banyak negara telah memasuki era digital. Mereka memberikan gagasan dan menciptakan perabotan era digital. Mereka memperbaiki dan mengatur sedemikian rupa era ini. Era yang sangat memudahkan manusia untuk berselancar di jagat dunia Maya. Memudahkan berbagai aktivitas manusia dengan berbagai teknologi yang digagas dan ciptakannya.  Secara historis dalam buku etika protestan dan spirit kapitalisme, Max weber, di awali dari revolusi industri Inggris dan Perancis.  Walaupun ada perdebatan awal mula dari penggunaan mesin, sebut saja pada zaman Mesir kuno. Akan tetapi, pemikiran lebih tertuju pada zaman  revolusi tersebut. Kemudian semakin memuncak ketika zaman perang dunia I dan kedua II.  Setelah mesin kemudian mengambil alih kegiatan manusia, maka rongrongan teknologi dan peralihan zaman kemudian melaju amat cepat dibandingkan sebelumnya. Memasukilah zaman yang dikenal pos-industrial yang menurut Daniel Bell dalam buku "Pembunuhan yang selalu gagal" mengemukaka...

Mark Twain: Anak Yang Malang Si Pemandu Sungai Benua Amerika

Kota kecil dipinggir sungai Mississippi Amerika Serikat di Hannibal, lahir penulis muda nan cerdas bernama Samuel Langhorne Clemens atau Mark Twain.  Karya karya monumentalnya melejitkan namanya dalam tiap perjalan, hingga dijuluki sebagai " The Great American Novel, ". Berstatus ada apanya alias hidup mapan dengan rejeki ayahnya sebagai hakim atau glamor diumur belia, ternyata sangat singkat bagi Mark Twain untuk berpoyah-poyah. Ia melihat pembunuhan, rasisme dan kematian ayahnya. Sungai yang biasa ia pandangi, berubah menjadi lumpur.  Sekujur tubuhnya lapar dan haus. Mark Twain putus sekolah layaknya kisah anak Indonesia. Ia, bekerja tukang cetak diusia 12 tahun dan dibayar hanya dengan menyuapi cacing-cacing perut yang sedang marah. Nasib sial Mark Twain makin menjadi-jadi. Ingin menikmati hidup layaknya anak remaja, malah yang ia dapat banting tulang untuk sesuap nasi dikala remaja, lagi dan lagi. Di usia 17 tahun, ia memutuskan pindah dan bekerja pemandu sungai, di...