Langsung ke konten utama

Pendidikan: Peringkat dan Penelitian

Peringkat merupakan indikator yang penting bagi pelajar. Peringkat menentukan sejauhmana usaha yang dilakukannya. Teringat semasa berstatus pelajar, peringkat seringkali saya tunggu saat pembagian Raport. Teriring bangga dan rasa syukur sesaat nama kita disebut di tempat terbuka, pada saat upacara dan di pengeras suara sekolah. Tentu menjadi buah bibir seluruh pengisi sekolah. 

Akan tetapi, ketika peringkat menjadi sebuah bentuk deifikasi atau mengkultuskannya, maka peringkat dapat mengubah paradigma pelajar hanya untuk mencari angka, mencari nilai hanya untuk sebuah eksistensi. Biasanya, akan membawa sebuah gejala baik melupakan lingkungan sosial, lingkungan berbagi dan menjadi sebuah makhluk individualis, dan egosentrisme.

Sedangkan dalam rana mahasiswa atau yang mengeyam pendidikan perguruan tinggi. Menurut saya, peringkat juga hal yang penting, dan di sisi lainnya peringkat juga bukanlah torehan mutlak mencapai kesuksesan. Sekarang ini, ada banyak peringkat yang tidak sesuai dengan kualitas akan status yang diembannya. Sering kali, mengejar peringkat juga memunculkan yang namanya KKN.

Kemudian bagi Kampus sendiri, sekali lagi merupakan sangat penting. Biasanya peringkat kampus menjadikan lumbung persaingan bagi para calon mahasiswa, karena peringkat itulah yang menjadi rujukan bagi para calon mahasiswa. Ada beberapa point yang mampu menaikkan peringkat kampus.

Menurut Kemristek Dikti, Moh Nasir dalam jumpa pers di Kantornya Jl Mh Thamrin Jakarta Pusat, Rabu (17/8/2016). Pemeringkatan Perguruan Tinggi tersebut berdasarkan atas beberapa indikator penilaian yaitu Dosen (12 persen), Kualitas dosen (18 persen), Akreditasi (30 persen), Kualitas kegiatan kemahasiswaan (10 persen), dan kualitas kegiatan penelitian (30 persen) (Hasrul, 2017).

Melihat data tersebut, saya lebih tertuju pada kualitas dosen dan penelitian. Kualitas dosen merupakan "salah satu penentu" mahasiswa berhasil dalam perkuliahan dan kegagalan para mahasiswa. Saat ini, tidak sedikit gejala yang kita dapati, seperti kurang profesional dalam memberi dan menilai tugas,  metode pengajaran yang membosankan, dan kurang menguasai bidangnya. Mahasiswa yang dulunya penuh semangat dalam menggeluti ilmunya, malah merosot dan membiarkan hal tersebut contohnya Copy Paste internet tanpa rujukan yang jelas.

Selanjutnya penelitian, baru-baru ini saya  mendapatkan ilmu tentang penelitian. Walaupun masih dalam tahap sederhana. Akan tetapi, apa yang saya pelajari, sungguh membuat kita tertantang untuk menggelutinya. Saya baru tahu, bagaimana penelitian itu yang sebenarnya, bukan yang berlaku di lingkungan kita.

Melihat syarat dari Moh. Nasir, ternyata penelitian yang terus dilakukan berbagai civitas akademik dapat meningkatkan peringkat kampus. Jika demikian, tentunya kampus perlu untuk memaksimalkan hal ini sebagai usaha dalam meningkatkan peringkat kampus, seperti memberikan bantuan dana, mempublikasi berbagai ajang penelitian dan menyediakan berbagai fasilitas penelitian yang berkualitas. Selain bertujuan meningkatkan peringkat kampus, juga meningkatkan semangat para mahasiswa untuk berkontestasi dalam dunia penelitian. Hal tersebut tentu dimulai dari kebijakan kampus itu sendiri, ingin maju atau ingin tercungkil dalam kebisan zaman.

Sumber:
Edunews.com

Komentar

Trending

Pembaharu yang di Hiraukan

Ada banyak negara telah memasuki era digital. Mereka memberikan gagasan dan menciptakan perabotan era digital. Mereka memperbaiki dan mengatur sedemikian rupa era ini. Era yang sangat memudahkan manusia untuk berselancar di jagat dunia Maya. Memudahkan berbagai aktivitas manusia dengan berbagai teknologi yang digagas dan ciptakannya.  Secara historis dalam buku etika protestan dan spirit kapitalisme, Max weber, di awali dari revolusi industri Inggris dan Perancis.  Walaupun ada perdebatan awal mula dari penggunaan mesin, sebut saja pada zaman Mesir kuno. Akan tetapi, pemikiran lebih tertuju pada zaman  revolusi tersebut. Kemudian semakin memuncak ketika zaman perang dunia I dan kedua II.  Setelah mesin kemudian mengambil alih kegiatan manusia, maka rongrongan teknologi dan peralihan zaman kemudian melaju amat cepat dibandingkan sebelumnya. Memasukilah zaman yang dikenal pos-industrial yang menurut Daniel Bell dalam buku "Pembunuhan yang selalu gagal" mengemukaka...

Mark Twain: Anak Yang Malang Si Pemandu Sungai Benua Amerika

Kota kecil dipinggir sungai Mississippi Amerika Serikat di Hannibal, lahir penulis muda nan cerdas bernama Samuel Langhorne Clemens atau Mark Twain.  Karya karya monumentalnya melejitkan namanya dalam tiap perjalan, hingga dijuluki sebagai " The Great American Novel, ". Berstatus ada apanya alias hidup mapan dengan rejeki ayahnya sebagai hakim atau glamor diumur belia, ternyata sangat singkat bagi Mark Twain untuk berpoyah-poyah. Ia melihat pembunuhan, rasisme dan kematian ayahnya. Sungai yang biasa ia pandangi, berubah menjadi lumpur.  Sekujur tubuhnya lapar dan haus. Mark Twain putus sekolah layaknya kisah anak Indonesia. Ia, bekerja tukang cetak diusia 12 tahun dan dibayar hanya dengan menyuapi cacing-cacing perut yang sedang marah. Nasib sial Mark Twain makin menjadi-jadi. Ingin menikmati hidup layaknya anak remaja, malah yang ia dapat banting tulang untuk sesuap nasi dikala remaja, lagi dan lagi. Di usia 17 tahun, ia memutuskan pindah dan bekerja pemandu sungai, di...

Logika dan Harmonisasi

Kata logika telah terdengar dan terucap basi. Logika, sering kali diucapkan sebagai cara analisis kita. contoh familiarnya,"Bagaimana logikanya", "ah tidak logis".  Akan tetapi, ketika bangunan logika belumlah tertata rapi, maka akan menghantarkan kepada analisis, penilaian, dan hasil yang subjektif. Dampak dari ini, akan membawa kepada disharmoni, dan degradasi pemikiran manusia yang beragam.  Membangun logika pun itu tidak mudah. Minat kita yang menjadi persoalan dan begitupula pada kajian logika yang dipandang oleh masyarakat, oleh kita, hanya sebuah biang kebingungan, kepusingan dan kegilangan dalam mempelajarinya. Padahal, itulah logika, mengapa kita pusing, gila dan bingung, karena pengetahuan kita sebelumnya bertolak belakang dengan apa yang seharusnya menjadi landasan pemikiran, dan analisis kita dalam kehidupan bermasyarakat.  Dampaknya, akan membawa kepada permusuhan, fitnah, individualis, egois, etnisentris, dan berbagai patologi-patokogi yan...