Saat itu Sabtu (14/1/2017) di Mamasa. Buliran air mengurai sepi dalam rasa. Menerjang menerpa bunga di sore hari. . . Diterjang, engkau bening mengkilat pada hari itu. Dalam luka, tak peduli engkau jatuh pada sisa rerumputan, mengurai mimpi untuk kita selalu bersama. . "Halo...., saya sudah sampai. Saya tidak tahu beli apa, Apa bagus? Syal. Oke, sudah tiba saya.....," pesannya dikerumunan. . Begitu indah pesan itu bersama awan gelap pemberi bulir butir suci, itulah rintik hujan esok hari, membuka mata tak berarah untuk kita selalu bersama. . Tergiang di telinga. Kecemasan dan putus asa, tak berlagu bersalut doa mendayu. Kita selalu bersama pada sunyi, sepi, sendiri dan kehangatan ini. . "Maaf...., saya ingin fokus" ucap dia dengan terbata-bata. . Pikiran, terbalut sisa endapan lumpur dari kali, pada semua harapan kita selalu bersama. Pada mimpi. . Semua terlihat jelas. Tak ada lagi mesti diperjelas. Bagai buta yang berairmat...